|
3
Hal ini dikarenakan film Jepang sering menampilkan kisah-kisah dengan tema-tema
yang menyentuh kehidupan sosial masyarakat pada umumnya maupun masyarakat
sosial dan budaya negara Jepang sendiri. Tema-tema yang sering muncul dalam film
Jepang, misalnya : keluarga, kehidupan sekolah, persahabatan, dan tema lainnya
yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jepang.
Masyarakat Jepang sendiri dikenal sebagai masyarakat yang hidup secara
berkelompok. Masyarakat Jepang dalam menjalin hubungan sosial dengan sekitarnya
biasanya membentuk kelompok-kelompok (Davies & Ikeno, 2002, hal. 195). Namun
sebenarnya, tidak hanya masyarakat Jepang saja, tetapi masyarakat di negara lainnya
pun, terkadang senang hidup dan berinteraksi dalam kelompok dengan orang-orang
yang dirasanya lebih dekat dan akrab.
Hal ini tidak terlepas dari hakikat manusia
sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup sendiri.
Menurut Damon (dalam Dariyo, 2004, hal.128), masing-masing individu
menyadari adanya kebutuhan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain karena
manusia adalah makhluk sosial (sosio-politic zoon) yang tidak mungkin hidup sendiri
tanpa kehadiran orang lain.
Menurut Sarwono (2009, hal.185), manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk
yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena
itu, tidak dapat dihindari bahwa manusia harus saling berhubungan dengan manusia
lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan
kelompok, atau hubungan kelompok dan kelompok inilah yang disebut interaksi
sosial.
Manusia perlu berinteraksi, bergaul, bersosialisasi, dan berkomunikasi dengan
orang lain di sekitarnya. Selain relasi dengan diri sendiri (relasi intrapersonal),
manusia juga membutuhkan relasi dengan sesama (relasi interpersonal).
|