|
4
Sebagai interaksi awal dari manusia adalah keluarga, yakni dengan orang tuanya
sendiri. Setelah anak memasuki usia sekolah, interaksi tahap berikutnya adalah
interaksi dengan orang di luar anggota keluarganya, yakni dengan teman-teman
sebaya di sekolahnya sebagai teman bermain.
Menurut Santrock (2003, hal.219-220), salah satu fungsi utama dari kelompok
teman sebaya adalah untuk menyediakan berbagai informasi mengenai dunia di luar
keluarga. Dari kelompok teman sebaya, remaja menerima umpan balik mengenai
kemampuan mereka. Remaja belajar tentang apakah apa yang mereka lakukan lebih
baik, sama baiknya, atau bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan remaja lain.
Untuk mempelajari hal ini di rumah akan sangat sulit karena biasanya saudara
kandung berusia lebih tua atau lebih muda.
Menurut Santrock (2003, hal.220), anak-anak menghabiskan semakin banyak
waktu dalam interaksi teman sebaya pada pertengahan masa anak-anak dan akhir
masa anak-anak serta masa remaja. Dalam suatu penelitian, anak-anak berinteraksi
dengan teman sebayanya 10% dari satu hari pada usia 2 tahun, 20% pada usia 4
tahun dan lebih dari 40% pada usia antara 7 dan 11 tahun (Barker & Wright, 1951).
Pada hari sekolah, terjadi 299 episode bersama teman sebaya dalam tiap hari. Bagi
remaja, hubungan teman sebaya merupakan bagian yang paling besar dalam
kehidupannya. Pada penelitian yang lain, selama satu minggu, remaja muda laki-laki
dan perempuan menghabiskan waktu 2 kali lebih banyak dengan teman sebaya
daripada waktu dengan orang tuanya (Condry, Simon, & Bronffenbrenner, 1968).
Harry Strack
Sullivan (dalam Santrock, 2003, hal.228) berpendapat bahwa ada
peningkatan yang dramatis dalam kadar kepentingan secara psikologis dan keakraban
antar teman dekat pada masa awal remaja. Sullivan beranggapan bahwa teman juga
memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan
|