|
7
Dalam ilmu
kriptografi
terdapat
aspek-aspek
keamanan,
meliputi
:
authority(pemalsuan),
data
integrity(keutuhan data), authentication(autentikasi), non-
repudiation(tidak
ada
penyangkalan).
Sebenarnya kriptografi sudah digunakan sejak
zaman
Romawi
oleh
Julius
Caesar
dalam keperluan
militernya.
Pada
saat
perang
dunia
ke-II, Jerman dan
Jepang juga
menggunakan algoritma kriptografi dalam berkomunikasi
untuk
kebutuhan
militernya,
namun
kunci
dari Enigma(produk
kriptografi
Jerman)
dan
Purple(produk kriptografi Jepang) dapat dipecahkan oleh sekutu, sehingga dengan
mudah
sekutu
dapat
mengetahui langkah-langkah
pertahanan
dan
perlawanan
mereka,
dan segera menyusun cara mengantisipasi. Kriptografi dahulu hanya menjadi bidang
khusus yang diperlajari didalam kemiliteran.
2.1.2 Cryptanalysis (Kripanalisis)
Ilmu ini
digunakan
untuk
mendapatkan plaintext
tanpa
harus
mengetahui
kunci
secara wajar (proses deskripsi). Pendapat mengenai kripanalisis ini pertama kali
dinyatakan sekitar abad ke-19 oleh Dutchman A Kerckhoffs bahwa
kerahasiaannya
berada
pada
kunci,
dan analisis
sandi
memiliki
rincian lengkap
mengenai
algoritma
kriptografi
dan
implementasinya.
Menurut Lars
Knudsen,
ada
beberapa
jenis
penggolongan pemecahan algoritmanya, yaitu :
1)
Total
break(pemecahan
total)
yang
berhasil
menemukan
key(kunci)
yang
digunakan untuk melindungi data dalam rumus : D
k
(C) = P
D=deskripsi
C=ciphertext
K=key
P=plaintext
2)
Global deduction(deduksi
global) dengan
mendapatkan algoritma alternatif
yang
ekuivalen dengan rumus diatas, tanpa harus mengetahui kunci
|