|
11
Jadi sepanjang sejarah
selalu ada
usaha
untuk
menghancurkan buku
yang disimpan
di
perpustakaan.
Sebaliknya
pula, masyarakat
pun
berusaha mengamankan
perpustakaan.
Secara
fisik, pengamanan perpustakaan kuno dilakukan dengan
menempatkan perpustakaan
(baca
buku)
di
bagian
yang
aman,
pada
sebuah
kuil
atau
istana.
Kuil
atau
istana
merupakan bangunan yang kokoh sehingga buku akan lebih aman disimpan di tempat
tersebut daripada tempat
lain.
Dalam berbagai gejolak sosial
maupun revolusi, keberadaan
perpus-takaan selalu tidak dilupakan masyarakat. Semasa puncak revolusi Perancis, semua
perpustakaan
milik
lembaga
keagamaan
disita, kemudian
koleksinya
ditempatkan
di
berbagai
pusat
penyimpanan
yang
tersebar di
seluruh
Perancis.
Semuanya
itu
mempunyai hikmah karena beberapa tahun kemudian setelah revolusi berakhir, buku sitaan
dijadikan
cikal
bakal
perpustakaan
nasional Prancis.
Semasa
revolusi
Rusia
serta
pasca
revolusi
(sekitar
tahun
1918-
1923)
sejumlah besar
buku,
bahkan
seluruh
buku
milik
perpustakaan pribadi Czar, dipindah ke perpustakaan yang ditunjuk penguasa baru. Koleksi
ini
nantinya
berkembang
menjadi
Perpustakaan Negara
Lenin
yang
tidak lain daripada
perpustakaan nasional Uni
Soviet. Di Indonesia, semasa pendudukan Jepang (1942-1945),
tindakan per-tama balatentera Jepang ialah mengamankan koleksi Bataviaasch
Genootschap van Kunsten en Wetenschap di Batavia (kini Jakarta) yang berada di
lingkungan
markas besar Kempeitai
(polisi rahasia Jepang). Koleksi
ini kelak
menjadi
inti
Perpustakaan Nasional Republik In-donesia.
Sebelum itu ketika Majapahit runtuh,
bangsawan maupun biarawan menyelamatkan berbagai naskah kuno ke tempat lain. Maka
pembaca akan sering menjumpai bahwa berbagai manuskrip seperti Negarakertagama
justru ditemukan di Bali atau Lombok.
|