|
12
Dari
uraian
di
atas
nyatalah
bahwa
kekuasaan
di
luar
perpus-takaan
dapat
merupakan kekuatan yang dapat menghancurkan perpus-takaan. Sebaliknya pula,
masyarakat (merupakan kekuatan di luar perpustakaan namun perpustakaan merupakan
bagian darinya) pulalah yang menciptakan sekaligus memelihara perpustakaan.
Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan merupakan satu-
satunya pranata ciptaan
manusia tempat manusia dapat menemukan kembali informasi yang permanen serta luas
ruang lingkupnya. Masyarakat selalu mengatakan
bahwa
perpustakaan
mempunyai
efek
sosial,ekonomi, politik dan edukatif. Karena imbas tersebut, maka timbul kontra efek
berupa
perusakan
dan
pembakaran
perpustakaan.
Hal
yang
disebut terakhir initerjadi juga
dalam
sejarah
manusia.
Bila
perpustakaan
hanya
berfungsi
sebagai
tempat
menyimpan
buku
saja,
bukannya
juga
menyebarkan
ilmu
pengetahuan, maka imbas
dan
efeknya
tidak
akan
sedramatis
seperti
yang
kita
saksikan
dalam
pengembangan
ilmu
pengetahuan.
Bila
ilmu pengetahuan hanya disim-pan saja, tidak disebarluaskan,
maka
ilmu pengetahuan akan
man-dek. Ilmu itu mungkin akan tumbuh lagi kemudian namun hal ter-sebut memerlukan
waktu yang lama, pengorbanan waktu, tenaga, uang. Ibaratnya kita tidak perlu menemukan
roda lagi. Karena itu ilmu yang disimpan dalam wujud buku harus disebarluaskan. Contoh
khas terjadi pada kemampuan operasi bedah otak pada orang Mesir kuno. Kemampuan
ini
hanya dikuasai oleh segelintir ahli
yang
terkungkung dalam tembok kuil,
tidak disebarkan,
malahan dirahasiakan. Alhasil kemampuan itu bukannya berkembang justru membeku
untuk pada akhirnya dirintis lagi oleh orang Eropa pada abad ke 18.
Perpustakaan
merupakan
tempat
belajar di samping sekolah. Sejarahwan Gibbon
pernah mengatakan bahwa pendidikan yang diberikan oleh seseorang pada dirinya melalui
otodidak
jauh
lebih
penting
daripada
pendidikan
yang
diperolehnya
dari
seorang
guru.
|