Start Back Next End
  
2.4.3
Remaja dan Agresivitas
Berdasarkan berbagai penjelasan mengenai karakterisik remaja, dapat dilihat
bahwa remaja memiliki ketidakstabilan emosi yang disebabkan oleh masa
transisi
secara biologis. Perkembangan tersebut dapat menghantarkan perilaku remaja ke
hal yang positif maupun menyimpang yang dalam konteks ini adalah perilaku
agresif. 
Santrock (2003) menyebutkan salah satu faktor yang mempengaruhi
agresivitas adalah kontrol diri. Sehubungan dengan pernyataan tersebut, Gunarsa
(2008) menyebutkan juga salah satu dasar bagi remaja untuk berkembang secara
normal adalah memiliki konsep diri yang baik. Pembelajaran terhadap sikap atau
stimulus dari luar harus diorganisir secara baik agar tidak dapat mengurangi konflik. 
Dalam studi menyangkut tingkat agresivitas (Gunarsa & Yulia, 2008)
dikemukakan bahwa seorang pria lebih agresif dibandingkan dengan seorang wanita
dan hal ini mulai pada usia sangat dini. Di samping itu, faktor lingkungan keluarga
dan masyarakat mempengaruhi besar kecilnya agresivitas ditambah masa
menjelang remaja, ada begitu banyak tekanan-tekanan sosial yang dialami
seseorang dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan konsep
dirinya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa agresivitas tidak lepas dari
remaja.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter