|
Agresivitas dapat diartikan sebagai perilaku atau kecenderungan perilaku
yang diminati untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis (Buss
& Perry, 1992; Baron & Byrne, 2004). Mereka yang frustrasi (merasa gagal
mencapai tujuannya) adalah orang yang paling mudah melakukan tindakan agresi.
Ahli psikologi sosial, yaitu Dollard dan Miller, menerangkan hal di atas dengan
frustration-aggression hypothesis (Brigham, 1991; Baron & Byrne, 2004; Nashori,
2008).
Orang-orang yang frustrasi kerap marah terhadap orang-orang yang
dianggap sebagai penyebab atau perantara terjadinya rasa sakit. Disakiti atau
dilukai perasaannya atau kepentingannya, itulah yang dijadikan alasan oleh
sementara orang untuk bertindak agresif. Mereka frustrasi dengan apa yang terjadi,
dan jadilah mereka menjarah, membunuh, menembak, melempar batu, memukul,
membacok, dan seterusnya.
Berdasarkan pengertian-pengertian agresi diatas dapat disimpulkan bahwa
agresi adalah setiap tindakan baik berupa verbal maupun nonverbal yang bertujuan
untuk menyakiti orang lain atau melukai pihak tertentu dan juga merupakan eksperi
perasaan negatif yang dimiliki dan dapat menjadi suatu kecenderungan atau
keinginan untuk terus melakukan tindak agresi (agresivitas) yang kemudian dapat
menjadi suatu perilaku agresif.
2.1.2
Penyebab Agresi
Menurut Buss dan Perry (1992) ada 4 jenis perilaku, yaitu kemarahan,
permusuhan, agresi verbal, dan agresi fisik. Ditambahkan pula oleh Santrock (2003),
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas adalah identitas diri, kontrol diri,
usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah,
|