![]() 7
keealakaan.
Meskipun
telah mengalami
kebutaan,
hal
tersebut
tidak
menutup
semangatnya untuk terns
menimba ilmu sehingga ia
berhasil mendapatk:an
beasiswa
telah dipergunakan
cleh
ten ara
Pemncis membaca dan
menulis
malam hari
i:ar"1pa
peneranga..n.
tersebut
menginspirasi Louis
Bmi!le
untuk
mengeml:langk_an
suatr
sistem
penulisan
U!11uk
para
ttLTianetm
menggunakan
titik-titik
timbul
yang
akbmya dipublikasikan p1ida
ta!lun 1829. Sistem penulisan tersebu1 sampai sekarang
dikenal
dengan
hurufbraille (The New
Institute
for
Special
Edueatim\
2000).
braille
atau yang disebut
te:rdiri
dari
pola enam
titik
dalam
dua
kolom
yang masing-masing kO!ornterdiri
tiga
baris. Titik-titik
tersebut
diberi
nomor
5, dan
6
pada posisi seperti
dalmn
gambar 2.1 berikut
(Depdiknas, 2000).
Abjad, nomor, dan tanda
baea yang
ga"'lakan dapat dikodekan
dalam simbo!Braille
ini. Deng81l metoce perabaaan, hurufbraille
dapat dibaca oleh tunanetra.
1<>"4
2
0
11i
5
3
$
tt
6
satcatal.i
kornbli"'lasi beberapa
titi.k tersebut
Karena pola
i.ni
terdiri
enam titik, rnaka kombinasinya
menghasilkc.n 63 SLllhol
ditar'11bab
satu sei kosong
SJXIsi.
De!'.gan bantuan nomor dari setiap titik, trlilka
suatu hu..ruf
dapat
dinyatakan
dengan
menyebutkan Ecmor
titik-titiknya seperti
gambar
2.2
terikut
|