|
2
tidak
akan
terbentuk tanpa
adanya
partikel
karena
dalam
bahasa
Jepang
terdapat
pola
partikel
yang
menghubungkan antar kata, sama halnya dengan bahasa
lainnya, partikel-
partikel
bahasa
Jepang
pun
tidak
akan
mempunyai
makna
jika
belum digabungkan
dengan kata yang lain dalam kalimat.
Partikel
dalam bahasa
Jepang
menandai
adanya
hubungan
kata-kata
yang
terdahulu,
baik dengan kata berikutnya maupun dengan sisa kalimat. Begitu juga dengan
Madubarangti
dalam Gunadi
(2005:1)
menyebutkan
bahwa
partikel
tidak
dapat
berdiri
sendiri tetapi selalu
menempel pada kata yang
ada di depannya dan
mempunyai peranan
penting dalam
menentukan jabatan kata di dalam kalimat bahasa Jepang. Oleh karena itu,
banyaknya partikel
yang
terdapat dalam bahasa Jepang, serta beragamnya
fungsi
makna
dari masing-masing partikel inilah yang membuat bahasa Jepang menjadi salah satu
bahasa yang unik dan khas.
Dalam penggunaan bahasa
Jepang, baik
lisan
maupun tulisan
tidak pernah
lepas dari
partikel
atau
yang
dikenal
dengan
istilah
joshi
(
??).
Dalam
bahasa
Jepang,
joshi
(partikel)
memiliki
fungsi
sangat
penting
dalam pembentukan
suatu
kalimat
dan
karena
joshi
tidak
dapat
berdiri
sendiri,
maka joshi
sangat
berpengaruh
dalam menentukan
arti
dari
kalimat
dalam bahasa
Jepang.
Sudijanto
dan
Dahidi
(2004:181)
memberikan
pengertian
tentang joshi
(partikel)
sebagai
kelas
kata
yang
termasuk
fuzokugo
dipakai
setelah
suatu
kata
untuk
menunjukan
hubungan
antara
kata
tersebut
dengan
kata
lain
serta untuk menambah arti kata tersebut lebih jelas lagi.
Jumlah partikel dalam bahasa Jepang cukup banyak sehingga
menjadi keunikan dan
kekhasan
tersendiri
bagi
bahasa
Jepang.
Rumitnya
suatu
partikel
dalam
bahasa
Jepang
itu
karena
masing-masing
partikel
tersebut
memiliki
fungsi
lebih
dari
satu.
Dan
tentu
|