|
7
mengimplikasikan
bahwa
EVA
mengendalikan
nilai
pasar
saham perusahaan.
Lebih
dalam, konsep ini sangat didukung perusahaan yang telah mengadopsi EVA, bahwasanya
penerapan EVA akan memperbaiki kinerja sahamnya. Sebagai contoh Coca Cola telah
membukukan
imbal
hasil
saham sebesar
200%
pada
periode
1987
(saat
mulai
menggunakan
EVA)
sampai
1993.
In the first half of 1996
we have created $135
million in market value for our shareholders, a 67% increase, petikan pernyataan John
Blystone, CEO dari SPX Corporation pada
iklan Stern Stewart & Co (Fortune, October
1996).
Forget about EPS, ROE and ROI. EVA is what drives stock price, bunyi salah
satu
iklan
lainnya
dari
Stern
Stewart
&
Co
pada
Harvard
Business
Review,
Nov-Dec
1995.
Bahkan
Zarowin
(1995)
memprediksi
bahwa
EVA
akan
mengantikan
EPS
(Earning
Per
Share)
dalam loporan
saham yang
secara
reguler
muncul
di
Wall
Street
Journal.
Betulkah
EVA
telah
terbukti
secara empiris
merupakan
faktor
yang
secara
signifikan mempengaruhi imbal hasil suatu saham perusahaan dan mendominasi alat ukur
tradisional yang lainnya ?
Dari uraian di atas tersebut dapat diketahui bahwa seharusnya tujuan setiap
perusahaan adalah berusaha dengan sebaik-baiknya untuk dapat memaksimumkan
kekayaan
para
pemegang
sahamnya.
Penulis
akan
meneliti
faktor-faktor
fundamental
yang paling dominan dalam mempengaruhi return suatu saham. Faktor-faktor
fundamental
yang dipilih, berdasarkan
teori pendukungnya,
yaitu, return on asets, return
on
equity,
earnings
before
interest
and
tax,
price
earnings
ratio,
dan
economic value
added.
Hipotesis yang diuji menggunakan metode analisis korelasi dan regresi linier
berganda. Selanjutnya, tesis ini diberi judul :
|