|
8
Sampai
sekarang
pun,
setelah
terjadi
kematian yang
dianggap
tidak
wajar,
desas-desus
mengenai
kemunculan
memedi
sering
mengemuka,
antara realitas
faktual
dan
fantasi
interpersonal saling tumpang tindih. Tak perlu heran pula jika masih demikian banyak
anak yang dihentikan tangisnya hanya
karena
pengasuhnya
menempuh
cara meden-
medeni. Tentu saja wedi, sebagai perasaan yang timbul akibat perlakuan itu bukan dalam
konteks dua istilah dalam satu wajah yang pernah dintroduksi oleh Hildred Geertz dalam
Keluarga Jawa dan Frans Magnis-Suseno dalam Etika Jawa.
Di
satu
sisi,
tindakan
meden-medeni merupakan
upaya
untuk
menyadarkan
anak
pada
relasinya
dengan
hal-hal
mitis
di
luar
dirinya.
Namun
di
sisi
lain, itulah representasi
hegemoni
mental
yang
tanpa
disadari
telah membenamkan anak pada situsi penuh
ketakutan untuk mengaktualisasikan diri, hingga ia tak berdaya untuk berkreasi. Dalam
situasi
semacam itulah,
keterkepungan
oleh hal-hal
gaib yang
tak
terperikan kian
menjadi-jadi.
Dan,
pada
saat
seperti
itu,
sebagaimana
teori
Peursen,
''sang
korban'' tak
punya kesempatan untuk beranjak menuju pada tahan ontologis (keluar dari kepungan
itu), apalagi ke tahapan fungsional (menjalin hubungan secara bermakna).
Berikut
ini contoh-contoh sebagian
makhluk
supranatural dalam
mitos dan cerita rakyat
Indonesia dari berbagai daerah;
Kuntilanak
Kuntilanak/pontianak dipercaya berasal dari wanita yang
mati
sewaktu
melahirkan anak.
Pada dasarnya ia adalah makhluk penghisap darah yang muncul pada malam hari,
umumnya
terlihat
di
pinggir
jalan
atau
di
bawah
pohon.
Kadang-kadang
ia
membawa
bayi.
Kadang-kadang
ia
menyamar
menjadi wanita muda yang cantik untuk menarik
perhatian korbannya
yang
lelaki. Setelah berhasil,
ia kemudian
menunjukkan
wujudnya
|