|
16
Jepang
,
Korea,
dan
negara-negara
di
Asia Tenggara
jauh
sejak
zaman
Dinasti
Han.
Qigong dan Waidangong
yang diciptakan oleh Fu Xi salah satu tokoh
yang dihormati
sebagai cikal bakal Qigong, sangatlah populer di Asia Tenggara.
Media Sinergi
Bangsa Indonesia edisi November 1998 dalam artikelnya Asal-
usul Silat Tiongkok Di Jawa dengan rinci telah memperkenalkan para guru silat
Tionghoa di Jawa dan murid-muridnya dalam kurun waktu antara 1914-1925. Mereka
tergolong aliran Shaolin Fujian, Shaolin Shandong, dan Shaolin Guang Dong. Uraian
ini
membuktikan
bahwa
silat
Tiongkok
sudah populer
di
Jawa
pada
dekade
pertama
dan kedua abad ke dua puluh.
Menurut
Kompas
yang terbit 22 dan 23 Februari
1986,
aliran-aliran
silat
di
berbagai
daerah
Indonesia
yang
terdaftar
di
Persatuan
Silat
Indonesia
tercatat
sebanyak delapan ratus dua puluh. Artikel itu mengatakan, silat Indonesia
terpengaruh oleh silat dari Tiongkok, Jepang, India, dan Thailand serta berkembang
dalam kondisi
Indonesia.
Diantaranya
silat
dari
Tiongkok
paling
besar
pengaruhnya.
Taiji, Qigong,
dan
Waidangong,
di
samping
dapat
menyembuhkan
penyakit
dan
menjaga kebugaran tubuh, dapat juga digunakan sebagai bela diri.
Banyak
pria
Tionghoa
yang
hijrah
ke
Indonesia
pada
masa
lalu
dan
menjadikan silat sebagai cara penting untuk menjaga kebugaran tubuh dan bela diri
yang antara lain adalah; Soe Beng Kong (?-1644) kapitan pertama Batavia yang
berasal dari propinsi Fujian adalah praktisi silat, Kwee
An Say pemimpin
masyarakat
Tionghoa yang berasal dari Hai Cheng propinsi Fujian yang terkenal di Semarang
sebagai Guru An Say dan pernah diangkat menjadi Kapitan Semarang dan
mempimpin pemberontakan masyarakat Tonghoa terhadap Belanda di Batavia, Souw
Pan
Jiang
yang
sekitar
tahun
50-an
pada
abad
ke
18
bertempat
tinggal
di
dekat
gua
|