|
17
batu Semarang bahkan ada surat kabar Indonesia yang mengatakan bahwa ia adalah
penjaga Gua Sam Po Kong itu yang mana setiap malam ia mengajari teman-temannya
berlatih silat demi
menjaga keselamatan barang dan jiwa sendiri dari perompak.Pada
pemberontakan
di
Karta
Sura
Ia
mengalami pengejaran
dan
penindasan
dari
tentara
musuh
dan
milih
mati
dengan
terjun
ke
Sungai
Semongan
di
dekat
Semarang,
yang
mana masyarakat setempat memperingati guru silat tersebut dengan menamakan
sungai tersebut Sungai Panjang dan desa yang pernah dihuni oleh Souw Pan Jiang
menjadi
Desa
Panjangan
sampai
sekarang. Huo Yuanjia, guru silat yang pernah
memberikan
kontribusi
berharga
kepada
perjuangan
rakyat
Indonesia
melawan
Jepang pada
tahun 1940-an, Huo Dongge
yang merupakan
putra kedua
Huo
Yanjia,
ketika itu menjabat Ketua Gabungan Persatuan Tionghoa Bandung, mengorganisasi
masyarakat
Tionghoa
Indonesia
mendirikan Persatuan Olahraga Silat untuk
mempelajari silat Tiongkok. Cucu Huo Yanjia dari putra sulungnya Huo Dongzhang,
Huo
Shousong
menjabat
Ketua
Persatuan
Olahraga Silat tersebut. Huo Dongge dan
Huo Shousong saling bahu-membahu melawan imperialisme
Jepang dengan bersatu
dalam barisan
penolong
palang
merah
Indonesia.
Tan
Xiong,
guru
silat
Tionghoa
di
pulau Bali, beliau dikenal oleh masyarakat setempat sebagai guru silat, penjual obat ,
ahli
nujum,
dan
guru
Feng
Shui.
Pada
usianya yang sangat senja, ia masih nampak
bersemangat dan
masih dapat
menceritakan sejarah kedatangan orang
Tionghoa
yang
kemudian
menetap
di
Bali
serta
seluk beluk
kunjungan
Admiral
Zheng
He
(Cheng
Ho). Kakek beliau yang bernama Tan Hongsan, berasal dari Pulau Hainan Tiongkok,
kemudian hijrah ke Bali dan pernah menjadi penasihat militer Raja Denpasar.
Di
Indonesia
sebenarnya
Wushu
sudah
lama
dikenal
dengan
istilah
Gongfu,
akan
tetapi barulah pada tanggal 10 November 1992 KONI pusat
meresmikan
|