|
18
Masuknya
teknologi
media
rekam
ke
dalam
seni
pertunjukan tradisional seperti
wayang kulit,
bukan
saja
telah
mempercepat berbagai
perubahan sosio-kultural,
tetapi
telah
mengkonstruksi budaya
baru
berupa
budaya
media
yang
bersifatsekuler,
populer,
dan
efisien.
Transformasi seni
pertunjukan
wayang
kulit
ke
dalam
seni
media
membawa
dampak terkait dengan bentuk, fungsi, dan makna.
Seni
media menyuguhkan
hiburan
yang sifatnya
instan atau slap saji dan dapat
ditonton
di
mana
saja
dan
kapan
saja
karena
tidak
terikat
oleh
ruang
dan
waktu.
Seni
media
adalah
seni
maya
yang
merupakan
ilusi
dan
aktivitas
dalam
dimensi
ruang
ke
dalam aktivitas dimensi bidang
(layar
monitor). Karena
seni
media
hanyalah sebuah
ilusi,
interaksi
yang
hidup, ekspresif, dan
motorik antara penonton dengan seniman dalang dan
penabuh tidak pemah terjadi.
Kehadiran audio kaset dan VCD Wayang Kulit "Cenk Blonk"
lakon Dyah Ratna Takeshi
menawarkan efisiensi dalam cara
menikmatinya karena dapat dinikmati dalam
ruang
pribadi,
diputar
berkalikali,
dipercepat
pada
adegan
yang
dianggap
membosankan. Seni
media juga cepat menimbulkan kebosanan, karena bersifat
monoton, tidak
interaktif dan tidak
hadir
sebagai
kesenian yang
hidup
(living
art).
Wayang Kulit
"Cenk
Blonk"
adalah
salah
satu
dari
seni
tradisional
yang
memiliki
karakter
sebagai
seni
populer
(pop
art)
dan
sebagai komuditas industri
kesenian yang
dapat
diinterpretasi
sebagai
bagian
dari
aktivitas ekonomi, kesempatan kerja, dan pendapatan melalui kesenian.
Bentuk
pertunjukan
seni
media
dimodifikasi
ke
dalam
struktur yang lebih
sederhana, dengan
inovasi,
substansi
sejalan dengan
diskutsus
yang
sedang
populer
di
masyarakat.
Penyuguhan komedi dan humor
mengindikasikan bahwa seni
media
lebih
mementingkan
fungsi hiburan yang hangat dan komunikatif. Seni media seperti
|