|
19
Wayang Kulit
"Cenk Blonk" penuh dengan komedi,
humor problema pergaulan anak
muda.
Seni
media
juga
mengemban fungsi
sebagai
kritik
sosial
yang
melawan
hegemoni
kekuasaan,
mengedepankan
keragaman
untuk
menghindari
kebuntuan
dan
kejenuhan.
Seni
media
mencoba
melelehkan pakem-pakem
seni
yang
konvensional
sebagai
refresentasi
karakteristik budaya posmodern dan budaya pop (storey, 2003: 91).
Lakon Dyah Ratna Takeshi adalah produksi industri kesenian
diciptakan
oleh
pasar
hiburan
komersial
yang
memproyeksikan
perilaku
remaja
dalam
mengatasi
masalah
seksual dan
emosional.
Nardayana
(dalang
Wayang
Kulit
"Cenk
Blonk")
membuat lakon
tersebut
untuk
tujuan
komersial
menunjukan
bahwa lakon
dan
settingnya
tidak
memiliki
otentisitas
tertentu,
namun
Nardayana mendramatisir
perasaan
otentis,
semuanya
itu
mengekspresikan dilema emosional remaja.
Deskripsi
diatas
merefleksikan
bentuk,
fungsi,
dan
makna
seni
tradisional
(Wayang
Kulit
"Cenk Blonk"
lakon Dyah Ratna
Takeshi) yang telah mengalami inovasi dan
adaptasi sesuai dengan perkembangan pasar dan teknologi.
3.2 Dampak Seni Media Terhadap Popularitas Seniman.
Kehadiran
seni
pertunjukan
kedalam media
rekam
"seni
media"
yakni
berdampak
positif
bagi
seniman
yang
mempunyai
daya
kreativitas
tinggi.
Seni media
dapat
meningkatkan
popularitasnya.
Tetapi
pada
sisi
yang
lain
"seni
media"
juga
mempunyai
pengaruh
negatif
terhadap
popularitas
seniman
yang
kurang
memiliki
daya
kreativitas
dan
inovasi
pada
karyanya.
Seperti
menurunnya popularitas Topeng
Tugek
Carangsari
yang karyanya beredar secara luas di masyarakat.
|