|
4
2.1.1 Literatur
WAYANG BALI
Wayang Bali tidak jauh berbeda dengan Wayang kulit Purwa yang Lazim dipergelarkan
di
Pulau
Jawa.
Tetapi
bentuk
tatahan
dan
sunggingan
wayang
Bali
berbeda.
Bentuk
seni
kriya Wayang Kulit Parwa
Bali
(di
Bali disebut Wayang Kulit Parwa, bukan
Purwa)
agak
mirip dengan wayang batu yang terpahat di dinding Candi Penataran, Blitar, Jawa Timur.
Bentuk seni kriya Wayang Kulit ball
lebih
mendekati bentuk seni kriya Wayang Kulit di
Pulau
jawa
beberapa
abad
yang
lampau.
Bentuk
sanggul atau
gelung
pada
tokoh-tokoh
wayang
seperti
Arjuna,
lebih
gemuk,
dan
tidak
mencapai
ubun-ubunnya. Pada
tokoh-tokoh
raksasa
dank
era,
Wayang Kulit
Bali masih
dilukiskan
dengan
dua
mata.
Dibandingkan
dengan
Wayang
kulit
Purwa
di
Pulau
Jawa,
bagian tangan pada Wayang
Kulit Bali lebih Pendek.
Pergelaran
Wayang
kulit
Bali,
terutama yang
dilaksanakan
pada
malam
hari,
juga
terasa
lebih
sacral.
Unsur
Wayang
sebagai
tontonan
dan
media
hiburan
lebih
terasa
di
pulau
Jawa.
Jika
dipergelarkan pada
siang
hari,
orang
bali
menyebutnya
dengan
Wayang
Lemah.
Dan
jika
dipertunjukkan
malam
hari
namanya
Wayang
Peteng.
DI
Bali,
blencong
untuk
penerangan,
disebut
damar wayang.
Perbedaan
lainnya,
pergelaran
Wayang Kulit Bali tidak
menggunakan pesinden atau swarawali.
DI Pulau
Bali, pada dasamya
fungsi pewayangan ada
tiga
macam,
yakni
yang
pertama untuk wali,
yaitu yang berhubungan
erat dengan
suatu
upacara keagamaan.
Fungsi kedua adalah
untuk bebali, atau pelengkap
upacara. Dan ketiga untuk balih-balihan
atau hiburan belaka.
|