|
5
Kelahiran Wayang bali
Tentang kapan Wayang Bali dilahirkan, tidak ada data yang jelas. Beberapa
Prasasti
yang
menyebut-nyyebut
soal
wayang,
ditemukan oleh
R. Goris,
misalnya,
yang
dikeluarkan
oleh
Raja
Ugrasena,
berangka
tahun
818
Saka
atau
896
masehi,
kini
(1998)
tersimpan di
Desa
Babatin, kabupaten
Singaraja.
Pada
prasasti
itu
disebutkan:
"...
pande tembaga,
pamukul,
pagending,
pabujing,
papadaha,
parhhangsi,
partapukan,
parbawayang"
(pemain
wayang).
Prasasti
menguraikan
tentang
bermacam
profesi seni, termasuk orang yang mempertunjukan wayang, atau dalang.
Pada
prasasti
Dawan,
kabupaten Klungkung,
yang
berangka 975
Saka
(1035
Masehi)
disebutkan
kata
aringgit
yang
artinya
wayang.
Kata
aringgit
juga
dijumpai
pada prasasti Blantih yang berangka 980 saka (1058 Masehi).
PV
van
stein
Callenfels
menyalin
kalimat
yang
tertera
pada
prasasti
Gurun
Pal,
Desa
Pandak,
Kabupaten
Badung,
yang
dikeluarkan
oleh
raja
Anak
Wungsu
tahun
1071
Masehi. Isinya
antara
lain:
...
yam
amungkul,
anuling,
atapukan,
abanwal,
pirus,
menmen, dan aringgil.
Dari
prasasti-prasasti
itu
hampir
dapat
dipastikan
paling
tidak
pada tahun 896 Masehi
di Bali sudah ada pertunjukan wayang.
Angela
Hobart
dalam
bukunya
Dancing
Shadows
of'
Bali,
Theatre
and
Myth,
1987,
menyebutkan bahwa pada
masa pemerintahan raja
Dalem
Watu
Renggong
(1460-
1550
M) dari kerajaan Gelgel, pernah
menerima
hadiah
cinderamata
dari
raja
Majapahit
berupa satu kotak wayang kulit.
|