|
24
(STSI)
Denpasar ini
pernah
bekerja
sebagai
tukang
parkir
di
swalayan
Tiara
Dewata.
Namun
demikian
ia tetap
mengasah kemampuannya
dalam
mendalang.
la
mengakui
bahwa lakon wayang yang dibawakan dulunya lebih banyak yang ngomong jorok,
namun
sekarang
ia
berusaha
memasukkan banyak
tuntunan
pada
masyarakat.
Lantas,
mengapa dalang
yang
berpentas
sedikitnya
20
kali
per
bulan
ini
menolak
didokumentasikan
pementasannya?
Tetapi,
mengapa
ia
justru
bangga
banyak
dalang
yang
menirunya?
Berikut
wawancara Bali
Post
dengan
dalang
Cenk
Blonk.
Hasil
wawancara ini juga disiarkan Radio Global 99,15 FM, Sabtu (28/6) kemarin.
MENGAPA Anda memakai nama Cenk Blonk?
Dalam pewayangan ada beberapa tokoh punakawan yang namanya Nang
Klenceng,
Nang
Ceblong,
Nang
Ligir,
Nang
Semangat
dan
sebagainya.
Tokoh-tokoh
itu
sudah
dikenal
masyarakat. Pada
mulanya,
nama
wayang
saya
bukan
Cenk
Blonk,
namun
Gitaloka.
Makanya
setiap
pementasan
saya
cantumkan
di
kelir
nama
"Wayang
Gitaloka
dari
Belayu".
Setiap
pentas
saya
menampilkan
dua
tokoh
itu,
Nang
Kleceng
clan
Nang
Ceblong selain
Tualen, Merdah, Sangut dan Delem. Tetapi setiap pentas, tidak
ada
orang
yang
menyebut
nama
pertunjukan
saya
Wayang
Gitaloka.
Waktu
pentas
di
Jempayah,
Mengwitani,
saat
saya
masih
duduk
di
mobil
dan
ada
penonton
yang
bertanya
pada
temannya, "Wayang
apa
yang
pentas?"
Temannya menjawab,
"Wayang
Cenk
Blonk."
Saya
kaget,
lho
saya
kok
dibilang
Wayang Cenk
Blonk?
Padahal
nama wayang
saya
Wayang Kulit
Gitaloka. Mungkin
bagi
masyarakat
nama
itu
lebih
gampang.
Maka
akhirnya saya
ubah
nama
Gitaloka
|