|
25
menjadi Wayang
Kulit
Cenk
Blonk,
di kelir
saya
isi
dengan
gambar Cenk
Blonk,
lalu
saya
beri
tulisan
Cenk
Blonk.
Cenk
saya
ambil
dari
nama
Nang
Klenceng
dan
Blonk dari Nang Ceblong.
Anda banyak berimprovisasi dalam pewayangan yang tidak lazim di Bali, mengapa?
Suatu kesenian
menurut saya tidak boleh
kaku, diam, sementara zaman bergelinding
terus.
Jadi,
suatu
kesenian
harus
mengikuti
zamannya.
Saya
melirik
apa
yang
disenangi
penonton saat
ini. Kita tahu,
fungsi
wayang sebagal
wali,
tuntunan dan
tontonan.
Sebagai
tontonan
harus bisa
menarik dan
menghibur
masyarakat.
Bagaimana
dalang bisa
memberikan
tuntunan
pada
masyarakat,
sementara
penontonnya
enggak suka.
Sekarang
kebanyakan
orang
stres
dengan
pekerjaannya,
jadi
mereka
menonton itu
untuk
mencari
hiburan
atau
menghilangkan kepenatan
sehingga
banyak
lelucon
yang
saya
tampilkan.
Setelah
saya
kuliah
di
STSI
Denpasar,
saya
diingatkan
terus-menerus
bahwa
wayang
itu
sebagai
tontonan
dan
tuntunan,
sehingga saya berusaha
mengembalikan ke
fungsi
semula
yaitu
tuntunan.
Saya
melucu
tetap
melucu
namun
leluconnya saya
isi
dengan
muatan-
muatan
agama, politik,
ekonomi
dan
sebagainya.
Ini
mungkin
yang
membuat
kita
semakin eksis.
Dari mana dan bagaimana proses mendapatkan ide pementasan?
Ide-ide
itu
muncul
dari
baca
buku,
koran,
banyak
bergaul
dan
banyak
bertanya.
Dar]
percakapan
sehari-hari
dengan
tidak
sengaja
kita
mendapatkan
suatu
poin
atau
ide.
Saya
tidak
menutup
din
bahwa
saya
pun
meniru
dalang-dalang
yang
lain.
Misalnya
dalang
favorit
saya
IB
Ngurah
(alm)
dari
Buduk,
dalang
Jagra
dan
|