Home Start Back Next End
  
26
Bongkasa,
ada
beberapa
dialognya
yang
saya
tiru
namun
tidak
jiplak
begitu
saja,
saya kembangkan sesuai dengan kemampuan saya.
Apa resep yang bisa diterapkan agar wayang semakin menarik?
Saya kembalikan pada saya sendiri. Wayang beberapa tahun
yang
lalu
hanya
ditonton
orang-orang
dewasa
atau
orang
tua.
Lalu
saya
berpikir,
bagaimana caranya agar wayang
itu
menarik
untuk
anak-anak remaja,
makanya
saya
cari
apa
yang
disenangi remaja
tanpa
lepas
dan
normanonna. Melucu
boleh,
namun
ada
aturannya.
Perlu
diketahui,
membuat
lelucon
lebih
sulit
daripada
membuat
filsafat.
Membuat
filsafat
bisa
kita
dapatkan
dan
membaca
buku,
lalu
kita
tulis
dan
hafalkan.
Tetapi
membuat
lelucon?
Bisa
saja
kita
tulis
lalu
kita
bacakan,
lantas
apakah
penonton
mau
tertawa?
Makanya
saya
mengimbau
kepada dalang-dalang agar
terus
mengasah
din,
terjun
ke
masyarakat
dan
mencari
tahu
apa
yang
mereka
sukai
dan
apa
yang
diingini.
Kesenian bukan
untuk
din
sendiri
sang
seniman, namun hasil karyanya untuk orang lain.
Bagaimana  suatu  kesenian  itu  bisa  dikatakan  bagus  kalau  yang
nonton  tidak  ada?
Mengapa Anda kuliah di STSI? Denpasar?
Setelah
laris
seperti
sekarang,
bagi
seniman,
ini
adalah
tantangan.
Kita
tidak boleh
berdiam
diri
atau
berbangga
din
sebab
penonton
punya
rasa
bosan.
Untuk
mengantisipasi
ini,  saya  terus  mengasah
diri.  Setelah
kuliah  di  STSI 
Denpasar  saya  dapat  rasakan
bergaul
dengan
seniman-seniman, dengan
dosen
yang
tahu
tentang
wayang.
Akan
semakin
terbuka
wawasan
kita
untuk
memandang
bagaimana
wayang
itu
agar
dapat
kita
kembangkan
sejauh
kemampuan
kita.
Sebelumnya
saya
tidak
punya
guru
khusus
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter