|
27
mendalang.
Selain
itu,
sebelum
kita
kembangkan
harus
tahu
dasar-dasar
tradisinya,
barulah kita akan
melangkah pada pengembangan.
Apa ilmu yang dapat Anda terapkan dari kuliah di STSI?
Seperti yang
sering
penonton
lihat,
artistik kelir
itu
saya
dapatkan dari
STSI.
Pengaruhnya
memang
banyak
dari
Jawa,
namun
saya
transfer dengan
gaya
Bali.
Ada
tambahan
sinden.
Sebelum
kuliah,
wacana
leluconnya pasti
agak
norak
atau
porno,
namun sekarang saya
berusaha
terus-menerus
untuk
menekan
hal-hal
seperti
itu.
Rasa
tidak puas
mendapatkan kuliah pasti
ada. Itulah sebabnya saya sering bertanya pada dosen
baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Bagaimana awalnya Anda mendalang?
Saya
tamat
SMA
tidak
punya
pekerjaan.
Ekonomi
morat-marit. Saya
tidak
punya
keterampilan
sehingga
melakoni
pekerjaan
apa
saja,
termasuk
sebagai
tukang
parkir.
Namun
saya terus berpikir,
apakah kehidupan saya akan terus begini? Saya
masih
mencari jati diri,
itulah
sebabnya saya kuliah di
IHD
(Institut
Hindu
Dharma, red),
namun
terbentur dengan biaya. Akhirnya terpaksa berhenti dan
menikah.
Pekerjaan dalang
ini
sudah
saya
tekuni. Namun
demikian,
saat
itu
pentasnya tidak
tentu.
Kalau
ada
orang
yang
meminta
saya
mendalang
barulah
pentas,
enam
bulan
belum
tentu.
Saya
lakoni
sebagai
tukang
parkir
sambil
melirik
peluang
pekerjaan
lain.
Saya
rasakan
payah
sekali
waktu
itu,
sebab
dari
Blayu
ke
Gemeh,
Denpasar, saya
pulang-perginya
naik
sepeda
gayung.
Tetapi
waktu
itu
perasaan sakit
atau
kurang
sehat
tidak
pernah
saya
rasakan.
Mungkin
karena
sering
olah
raga.
Enggak
seperti
sekarang
|