Home Start Back Next End
  
28
sakit-sakitan. Setelah saya kawin, entah bagaimana, pekerjaan
mendalang
itu
mulai
laris.
Awalnya
saya
pentas
di
Blahkiuh,
lalu
merembet
ke
Abiansemal
dan
seterusnya.
Jadi
cerita
tentang
pementasan
wayang
saya
dan
mulut
ke
mulut,
akhirnya
banyak
sekali
orang yang meminta saya pentas.
Sebelum laris mendalang, seperti apa perangkat wayang yang Anda miliki?
Saya
tidak
punya
warisan wayang dari
leluhur. Tetapi
sejak
kecil
saya
suka
mengukir
dan
menggambar. Saya bikin
wayang sendiri.
Awalnya saya
punya
20
buah
wayang
dan
di-pelaspas
di
pura.
Saya
di-winten
jro
mangku,
maka
saya
sah
jadi
dalang.
Sambil
jalan saya
bikin
lagi
dan
kalau
punya
uang
saya
beli
wayang.
Hingga
sekarang
saya
masih
membuat wayang sendiri. Saya punya satu gedog wayang untuk koleksi. Saya belum
pernah
terima
pesanan
wayang.
Tetapi
kalau
dipesan
untuk bikin
wayang,
saya
enggak
sanggup, enggak sempat.
Setelah laris, Anda justru membatasi pementasan, mengapa?
Pertama,
untuk
kesehatan.
Sebab
pekerjaan
dalang
banyak
begadang.
Kalori
untuk
begadang
lebih
banyak
dikeluarkan.
Di
samping
itu,
untuk
menjaga
agar
penonton
tidak
bosan.
Semakin
sering
kita
pentas,
penonton
akan
semakin
cepat
bosan.
Sebab
kita
akui,
sebagai
manusia
kita
mempunyai
keterbatasan.
Bagaimana
kita
setiap
malam
bisa
memuaskan penonton? Sementara penonton terus
menginginkan hal-hal
yang baru. Kita
belum
tentu
mendapatkan
hal-hal
baru.
Sekitar
dua
tahun yang
lalu
saya
pernah
tifus
dan
opname 10 hari,
lalu saya
mengaso satu bulan. Ada
yang bilang kalau dalang Cenk Blonk
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter