|
31
Saya
ingin suatu saat
wayang
Bali
menjadi hiburan
yang
favorit
seperti konser-konser
musik
pop
Bali
sekarang.
Makanya,
saya
terus
melakukan
pembenahan baik
di
bidang
manajemen,
dengan
sanggar,
dalam
cerita,
wacana,
teknik-teknik
mendalang
terus
saya
asah.
Saya
berharap,
dalang-dalang
yang
lain
juga
melakukan
hal
itu.
Jadi
terus
mengasah din
agar
wayang
menjadi
hiburan
yang
favorit.
Saya
memang
belum
berkolaborasi dengan
penyanyi
pop
Bali,
walaupun
seperti
di
Jawa
ada
yang
namanya
wayang campur
sari. Kita
tetap pada
inti
wayang kulit,
namun
kita
tetap
menyelidiki, apa
yang
disenangi
masyarakat,
apa
yang
harus
dibenahi
dengan
tidak
menghilangkan
akar-
akar tradisi.
Menurut Anda, pakem wayang itu apa?
Misalnya
pakem
Sukawati,
sebelum
ada
pakem
itu
apakah
sebelumnya tidak
ada
pakem
wayang
sebelumnya?
Bentuknya
lain,
masyarakat
tidak
puas,
lalu dikembangkan
lagi seperti
yang kita temukan di
Buduk. Seniman tidak puas, la kembangkan
lagi, la ingin
punya
ciri
tersendiri.
Jadi
kita
keluar
dari
pakem
yang
mana?
Saya
juga
punya
pakem.
Pakem
di
Buleleng beda
dengan
Gianyar, juga
beda
dengan
Buduk.
Saya
buat
pakem
sendiri,
syukur
kalau
ditiru
orang
lain.
Sekarang
saya
lihat
di
kelir-kelir itu
sudah
banyak diisi tulisan. Gambar kayak Cenk Blonk
sudah banyak sekali ditiru,
lalu
muncul
dengan
nama
Co
Blank,
Ce
Klin.
Kita
mendalang bukan
menantang
hal
itu, yang
penting mendalang, itu saja!
Ritual yang dilakukan apa?
|