|
30
wayang
karton.
Di
desa
kami
ngumpul
delapan
orang
lalu
membuat
satu
grup
gamelan
wayang
yang
diiringi tingklik Hampir setiap
malam
pentas.
Kalau
ada
orang
ngotonan,
kami
diminta pentas
dengan
alat
sederhana,
kelir
seadanya
dan
wayangnya
dari
karton
serta
gedog-nya dari
triplek.
Saat
kenaikan
kelas,
rapor
saya
semuanya
merah.
Lalu
orangtua
saya
marah. Wayangnya dibakar.
Orang
tua
saya
petani
dan
beliau
menginginkan
saya
jadi
pegawal.
Tetapi
saya
tidak
berkeinginan
seperti
itu. Sebelum
mendalang saya juga punya grup drama gong yang sering juga pentas.
Setamat
SMA, saya belum juga serius mendalang.
Lalu ada tukang topeng, I
Gusti
Ketut
Putra
yang
mengajak
saya
untuk
gabung
dengan sekaa
topengnya.
Sampai
sekarang
pun
saya
masih
punya
topeng
satu
set.
Kalau
ada
yang
minta
menari
topeng
Sidakarya,
saya
ladeni.
Kalau
di
luar
desa
saya
tidak
mau,
karena
saya
eksis di
pedalangan.
Bagaimana pengalaman Anda nonton wayang waktu anak-anak?
Sejak
kecil
saya
senang
sekali
melihat
dalang
memainkan wayang.
Saya
enggak
senang
melihat bayangannya dari depan, tetapi saya suka lihat dari belakang. Di
samping
itu,
ketika
dalang
itu
datang,
ia
sangat
dihormati sekali.
Melihat
itu
saya
kagum,
"Wah enak sekali jadi dalang, saya ingin seperti itu." Waktu saya kecil
kesenian
wayang
ini
sangat
favorit.
DI
desa
saya
ada
wayang
Pan
Yusa
yang
sering
ditanggap, setiap pementasannya saya menonton.
Anda ingin mengembangkan wayang seperti apa?
|