|
37
Di
tengah
popularitasnya yang
sedang
meroket, Nardayana
kiranya
punya
peluang
besar
memberikan
pencerahan
budi
kepada
masyarakat
penonton
dengan kiat sajian
berimbang
antara
porsi
hiburannya
dengan nilai-nilai
ideal
seperti
keapikan
binar
estetiknya,
persuasi
muatan
etiknya,
dan
pengayaar
cakrawala bobot
dialektika
pemikirannya,
untuk
merehabilitasi selera
instan dan
budaya
manja
masyarakat penonton.
Para
dalang,
di
Jawa
dan
Bali,
dulu
memiliki
idealisme
mulia
seperti
itu
dan
kontribusinya pernah dijadikan acuan teladan dan panutan karismatik masyarakat.
Fenomena
wayang
Cenk Blonk
belakangan
memang
sedang dikunyah-kunyah
nikmat
oleh
masyarakat
Bali.
Tarif
per
pentasnya
yang
sudah
sebesar
Rp
7
juta
(wayang
kulit
Bali
umumnya hanya
diupah
Rp
1-2
juta)
tak
mengurungkan
niat
masyarakat
untuk
mengundangnya.
Alhasil, tiap
bulan
Nardayana
hanya
berkesempatan libur
tak
lebih
dari
seminggu.
Permintaan pentas
mulai
klan
deras
sejak
VCD
pentas
wayangnya
dikomersialkan
dengan
harga
murah
meriah.
Untuk sementara,
dampak
peredaran
VCD
itu
menguntungkan dan menjadi media promosi secara tidak langsung.
Jika
saja
Nardayana
tetap
konsisten
menyalakan
api
kreativitasnya,
mungkin
ia
tak
akan kehilangan penonton seperti
yang pernah dialami Grup Arja Cowok
yang begitu cepat
terkenal pada
1990-an
tapi
tak
lama
kemudian
terj
ungkal, ditengarai karena sebuah lakon
favoritnya
ditayangkan
sebuah
televisi
lokal
di
Bali.
Sebelumnya,
pada
tahun
1970-an,
Topeng
Carangsari dengan
bintangnya I
Gusti
Ngurah
Windia,
juga
sempat
merengkuh
popularitas
yang
menjulang
tapi
kemudian
disungkurkan
oleh
perekam
gelap
yang
tanpa
izin
memperbanyak
dan
menjual
pita
kaset
rekaman
pementasan
topengnya
yang
materinya sama dengan yang biasanya disajikan grupnya di tengah masyarakat.
|