|
36
terjemahan bahasa Kawi
(bahasa Jawa Kuno)
tokoh
Rahwana
dan
Kumbakarna,
diartikulasikannya secara jenaka, mengena, usil, dan mengetuk relungrelung moral.
Semangat
penjelajahannya menangkap
berbagal
persoalan
sosial
dan
fenomena
kehidupan
yang
kemudian
diolah
menurut
versinya
inilah yang
menjadi
keunggulan
Nardayana. Ia
tak
hanya
menggali
bahan-bahan
itu
dari
peristiwa
hangat
kekinian,
namun
menyuruk
dalam-dalam ke
tengah-tengah
kehidupan
masyarakat
kebanyakan
di
sekelilingnya.
Kearifan-kearifan lokal
diadopsi
dan
dikais-kaisnya
yang
direlasikan
atau
dikonfrontasikannya
dengan
pandangan
kekinian.
Olah
pikir
dan kreativitasnya
itu
ia
representasikan
pada
tokoh-tokoh
punakawan
seperti
Delem,
Sangut,
Malem,
dan
Merdah, atau pada dua maskotnya, Ceng clan Blong.
Struktur
dramatik wayang
Wit
Bali
tak
mengenal adegan
goro-goro
seperti
halnya
wayang
Jawa.
Kendati
tak
disajikan
secara
khusus,
adegan
semacam itu
mengalir
dalam
untaian cerita.
Topik
yang
dimunculkan tak
begitu jauh
melenceng dari
lakonnya. Dalang
Nardayana tampak
mahir
mengayun penonton dalam
hal
ini.
Gelak tawa dan
tepuk tangan
bergemuruh
mewarnai
penampilan
tokoh
Ceng
dan
Blong
yang
berinteraksi
dengan
empat
punakawan
tadi.
Kepiawaian Nardayana
mengungkapkan
mated
dalam
konsistensi karakter warna suara dari tokoh-tokoh yang dimainkannya itu mengagumkan.
Pada
bagian
akhir
pentas
ini,
anehnya,
menonton
hampir
secara berbarengan
menggeliat
bubar.
Kematian
tragis
Kumbakarna
tak
dihiraukan penonton
lagi, padahal
bagian
inilah
intinya. Simpul
nilainilai kepahlawan yang dilontarkan sang dalang
menguap
dalam
keriuhan
penonton
yang
beranjak pulang.
Ini
artinya apa?
Ini
artinya, mungkin,
penonton hanya membutuhkan hiburannya dan bukan nilai tuntunannya.
|