Home Start Back Next End
  
35
Nardayana
berani
tampil beda.
Pemanggungan wayang
kulit
Bali
yang
bersahaja
ditinggalkannya.
Panggung
pentas
Cenk
Blonk
dibuat
megah,
semacam
gapura
yang
berukir 
ornamen 
meriah 
khas 
Bali. 
Sementara 
para 
dalang 
Bali 
lainnya 
masih
memakai 
lampu 
blencong, 
Nardayana 
sudah 
memakai  lampu 
listrik 
warna-warni.
Sejak kuliah di
Jurusan
Pedalangan,
Instutut
Seni
Indonesia
(ISI) Denpasar
tiga
tahun
lalu,
dalang
yang
pernah
jadi
satpam
pasar
swalayan
ini
mulai
memakai
ensambel
gamelan
semarapagulingan lengkap
yang
dimainkan
puluhan
pengerawit.
Alunan
tembang
koor
vokalis wanita (sinden di Jawa) kin] juga selalu menyertai pentas Nardayana.
Berbagai  terobosannya
itu
sesungguhnya 
dibekali 
dengan
kemampuan 
mendalang
yang
sudah
mapan.
Sebelum
berinovasi, Nardayana
sudah
dikenal
laris,
khususnya
di
lingkungan
Tabanan
dan Bali
Selatan
khususnya.
Dalang
yang
sempat
belajar
sabetan
hingga
ke
Jawa
Tengah
ini
memiliki teknik
permainan
wayang
yang
komplet.
Olah
vokalnya 
lentur 
dan 
matang. 
Wawasannya 
terhadap 
sastra 
tradisional 
Bali  cukup
memadai
dan
interpretasinya terhadap
sumber
cerita
Mahabharata
dan
Ramayana
sarat
dengan imaji yang kreatif.
Malam
itu,
di
tengah
kepungan
ribuan
penonton,
Nardayana
mengetengahkan lakon
"Kumbakarna Lina"
yang
bergulir
lebih
dan
tiga
jam.
Struktur
dramatiknya
dimulai
dengan
adu
argumentasi
kakakberadik Rahwana dan
Kumbakarna. Di
sini,
misalnya,
tampak 
kepekaan 
Nardayana
mengkontekstualisasikan
tema-tema  kekinian 
dalam
bangunan gaya berkisahnya yang memikat.
Urgennya rasa cinta Tanah Air
di era
global
ini digedor-gedornya. Sikap kepahlawanan
yang 
aji 
mumpung  diolok-oloknya. 
Tentang  para 
pemimpin 
yang 
rakus 
kekuasaan
diobok-oboknya.
Dua
punakawan,
Delem
dan
Sangut,
saat
memberi
ilustrasi
retorika
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter