Home Start Back Next End
  
34
sebuah pementasan wayang kulit Bali
yang disaksikan
bak tontonan
sepak bola baru kali
itu terjadi
sepanjang
sejarah. Ini adalah peristiwa
fenornenal, di
tengah kian
lesunya minat
masyarakat
Bali
pada
umumnya
menonton
wayang.
Membludaknya penonton
wayang
di
forum Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-28 itu sungguh fantastis.
Panggung terbuka
Ardha Candra, Taman Budaya
Denpasar,
yang berkapasitas
lima ribu
penonton
itu
penuh
sesak.
Tua-muda,
pria-wanita,
dengan
membeli
tiket
berduyun-duyun
datang
untuk dapat
menyaksikan pertunjukan
yang dimulai pukul 21.00
wita
itu. Penonton
yang
tak
dapat tempat
duduk
terpaksa
merangsek
ke
belakang
dalang.
Tembok
dan
pepohonan pun dipanjat penonton untuk dapat menyaksikan pertunjukan itu.
Itulah  pentas  wayang  oleh  dalang 
yang  sedang 
naik  daun,  I 
Wayan  Nardayana.
Wayang
ini
populer
dengan
sebutan
Cenk
Blonk
(baca:
Cengblong).
Nama
ini
adalah
pemberian
para
penonton,
karena
dalam
pementasan wayangnya,
dalang
asal
Belayu,
Tabanan,
ini
hadir dengan
dua karakter tokoh rakyat yaitu Nang Klenceng dan Pan
Eblong
yang dalam
penampilannya selalu
mengundang
perhatian
penonton
dengan
celetukan-
celetukannya
nan
kocak
menggelitik.
Dua
tokoh
tambahan yang
hanya
ada
dalam
wayang
kulit
daerah
Tabanan
ini
lalu
jadi
merek
khusus
Nardayana. Pada
bagian
atas
layar
wayangnya ditulisi
"Cenk
Blonk".
Pun
pada
kaca
depan
kendaraan
yang
membawa
rombongannya pentas keliling Bali sejak sekitar tiga tahun terakhir ini.
Sangat
jarang
dijumpai
dalang
wayang
kulit
di
Bali
yang
diundang
pentas
secara
lintas
daerah.
Biasanya,
masing-masing
wilayah
di
Bali
hanya
mementaskan
wayang
yang dibawakan oleh dalang dari desa atau kabupatennya sendiri.
Namun
kini, wayang
ala
Nardayana
hampir
bisa
diterima
di
seluruh
Bali.
Lantas,
mengapa wayang
Cenk
Blonk
mampu menyihir penonton?
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter