|
39
relief
berwujud wayang yang bentuknya persis wayang Bali di Candi Penataran,
Jawa
Timur,"
katanya.
Meski
sebagai
seni
pertunjukan yang
populer
di
mata
masyarakat,
tidak
gampang
menjadi
seorang
dalang.
Di
samping
memerlukan konsentrasi
tinggi
dan
stamina
yang
fit,
seseorang dalang
dituntut
juga
menguasai
bahasa
kawi,
mecepala,
memainkan
dan
menyuarakan
masing-masing
karakter
dari
pada
tokoh
wayang.
"Paling
tidak,
dalang
harus
mengetahui
rasa
seni
musik,
tari
dan
mengetahui
sastra,"
lanjutnya. Kesenian
wayang dalam perjalanannya hingga kini, selain sebagai pertunjukan
seni wall (pelengkap upacara), juga sebagai bebali (penunjang
upacara), dan balih-
balihan
(hiburan).
Menjadi
seorang
dalang
dalam
tradisi
masyarakat Bali
tidak
gampang.
Pertama-tama
harus
melakukan
penyucian
diri
lewat
pewintenan
dan
mesakapan
(kawin)
dengan
wayang
dengan
tujuan
menyatukan wayang
dan
dalang
sehingga
dalam setiap
pertunjukannya muncul
taksu
(inner
power)
wayang
sesungguhnya.
Proses
ritual
itu
juga
sebagai tanda bahwa dalang berfungsi
sebagai
pandita bergelar
Jero
Dalang
yang
bertugas
untukmembuat
tirta
(air
suci).
Sebagai
Wall,
kesenian
ini
dapat
dikategorikan
menjadi
tiga:
wayang
lemah,
Wayang
Sapu
Leger
dan
Wayang
Sudamala. Wayang
lemah dipentaskan sebagai
pelengkap
upacara
(Dewa
Yadnya,
Rsi Yadnya,
Manusa
Yadnya,
Pitra
Yadanya,
Bhuta
Yad-nya)
yang
lebih
menekankan pada
sebuah
persembahan.
Wayang
lemah
dipertunjukkan
siang
hari
dan
cerita
yang
diangkat
disesuaikan dengan
jenis
upacara yang digelar. Wayang Sapu
Leger dan Wayang Sudamala
merupakan
pertunjukan wayang
Wit
biasa
yang
digelar
malam
hari.
Namun,
dalam
pentasnya
khusus
untuk
meruwat
anak
yang lahir
pada
tumpek
wayang
sehingga
mengangkat
cerita
dan
memakal
banten
yang
khusus
pula.
Pertunjukan Wayang
Sapu
Leger
biasanya
mengambil
kisah
Dewa
Kala
atau
Siwa
Rare
Kumara.
Sedang
Wayang
|