Home Start Back Next End
  
10
tersentuh oleh teknologi media rekam. Salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji adalah
penggunaan teknologi media rekam ini dalam seni Pewayangan Bali.
Wayang
Kulit
adalah
genre
seni
pertunjukan
Bali
yang
merupakan warisan budaya
leluhur,
yakni
hingga kini
masih tetap
hidup
dan
dicintai
oleh
banyak
orang
di
kalangan
masyarakat Bali.
Untuk
membawakan
sebuah
kisah,
baik
yang
bersumber
dari
wiracarita
Ramayana,
Mahabarata,
maupun
cerita
lokal
seperti
Malat,
Calonarang,
dan
Cupak.
Masyarakat
Bali
mengenal
beberapa
jenis
pertunjukan
wayang
kulit yang
perbedaannya, terutama ditentukan oleh sumber
lakonnya.
Berdasarkan
sumber
lakonnya,
wayang
kulit
Bali
dapat
dibedakan menjadi,
wayang
kulit
ramayana
dengan
sumber
lakon
Ramayarna;
(2)
wayang
parwa yang
menampilkan
lakon-lakon
dan
epos
Mahabharata; 3)
wayang
gambuh
dan
wayang
arja
dcngan
cerita
Panji:
(4)
wayang
calonarang
dengan
lakon
cerita
Calonarang;
(5)
wayang cupuk
dengan lakon Cupak
Grantang: dan (6). wayang tantri dengan cerita Tantri.
DI kalangan
masyarakat
Bali,
wayang kulit adalah
kesenian
yang
multi-fungsi. Secara
fungsional,
dalam
garis
besamya
pertunjukan
wayang
kulit
Bali
digunakan
sebagai:
(1)
pertunjukan bebali,
yakni
untuk
menyertai
pelaksanaan
upacara
keagamaan,
seperti
upacara Dewa
Yadnya,
Pitra
Yadnya,
Manusia
Yadnya,
dan
Butha
Yadnya;
(2)
pertunjukan
balih-balihan,
yaitu
pertunjukan
hiburan
yang
menekankan
nilai
artistik
dan
didaktis
(Sugriwa,
1963:7).
Seni
pertunjukan
yang
tergolong
ke
dalam kelompok
hiburan 
inilah 
kemudian 
banyak 
terkena 
pengaruh 
teknologi 
media 
rekam 
dan
teknologi media massa.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter