Home Start Back Next End
  
11
II. lndustri Kesenian
Tiga puluh
tahun yang
lalu,
mendengar pertunjukan wayang Wit dalam bentuk rekaman
kaset  audio  masih 
merupakan  sesuatu  hal  yang  aneh  dan  asing  bagi 
masyarakat.
Betapa   tidak,   ketika   itu   masyarakat   masih   lebih   suka   keluar   malam   untuk
menyaksikan pertunjukan
wayang kulit. Di desa-desa para penggemar
wayang
kulit
rela
berjalan 
kaki 
sejauh 
tiga 
sampai  empat 
kilometer 
untuk 
menyaksikan  pertunjukan
wayang  kulit  oleh  dalang-dalang
kenamaan.
Kini 
menyaksikan  pertunjukan 
wayang
kulit
tanpa
harus datang
ke
tempat pertunjukan
bukan
merupakan suatu
hal
yang
aneh
lagi.
Teknologi
rekarnan
memungkinkan para penggemar wayang kulit
untuk secara bebas
bisa
menikmati
pertunjukkan
wayang
kulit
melalui
siaran
radio,
tayangan
televisi,
atau
dengan
cara
memutar
rekaman audio atau rekaman audio
visual berupa
video
tape,
video
compact disk (VCD), atau digital versatile disk (DVD).
Fenomena  di  atas  selaras  dengan  padangan  Giddens  (dalam  Barker,
2005:384)
yang
membedakan
tempat
dengan
ruang
berdasarkan
kehadiran
ketidak
hadiran,
dalam
hal
ini
tempat dicirikan oleh adanya perjumpaan langsung antara penonton dengan pertunjukan
wayang
kulit.
Selanjutnya, ruang
dicirikan
oleh
hubungan
antara
yang
tidak
hadir
secara
langsung).
Penggunaan
teknologi
media
rekam
di
kalangan
seniman
Bali,
Khususnya
oleh
para
dalang
wayang
kulit,
yakni
erat
kaitannya
dengan
munculnya televisi di
Indonesia
termasuk
Bali
pada
tahun 1970-an.
Pada
dekade
tahun
1970-an,
Bali
belum
tersentuh
oleh
TV, tetapi
penyebaran
seni
pertunjukan
melalui
media
rekam
sudah
dimulai
jauh
sebelumnya
walaupun
masih
menggunakan
teknik
rekaman
audio seadanya.
Untuk
menggandakan
rekaman
kesenian
Bali
yang
telah
direkam pada saat
itu para pengusaha
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter