|
12
rekaman
menggunakan dua
buah
tape
recorder
yakni
masing-masing
digunakan
sebagai
sumber
dan
target.
Pengakuan
I
Wayan
Wijana, S.H.
bagian
pemasaran Bali
record
mengatakan
bahwa pada
waktu
itu
perusahaannya
menggunakan
dua buah
tape recorder
untuk
mengawali produksi
rekamannya, Bali
Record
adalah
salah
satu
perusahan
rekaman
yang
telah
banyak
merekam
dan
memasarkan karya-karya
seni
seniman
seni
pertunjukan,
diantaranya rekaman dramatari Topeng
Tugek Carangsari
dengan dua
belas
judul,
drama
gong
dengan
lima
puluh
judul,
dan
wayang
kulit
dengan
empat
puluh
satu judul termasuk tiga buah judul dalam bentuk CD (data Bali Record tahun 2004).
Jika
dilihat
dan
kuantitasnya,
dua
belas
judul
hasil
karya
seniman
Topeng
Tugek
Carangsari yang
telah direkam dan dipasar dan
merupakan prestasi
yang
luar biasa. Hal
ini
berarti
media
rekam
telah
memberikan pengaruh
positif
bagi
popularitas
para
seniman/seniwati pelaku pertunjukan
ini. Namun, dalam dua belas judul
yang merambah
ke
segala penjuru desa di Bali dan di luar Bali ternyata mengandung
dagelan
(bebanyolan)
yang
hampir sama; banyolan-banyolan
yang serupa terlihat di setiap
judul
yang
berbeda
sehingga
rekaman-rekaman
ini
juga
membawa
dampak
negatif
terhadap
expularits sekaa Topeng Tugek Carangsari tersebut.
Di era
globalisasi
yang
diprediksikan sebagai era pasar
bebas, yakni era masyarakat dunia
mengharapkan kehidupan
yang
lebih
baik. Namun
ternyata
yang
terjadi
justru
sebaliknya:
kehidupan
masyarakat
secara
umum
menjadi semakin
sulit.
Pada
saat segalanya
didera
oleh
tekanan-tekanan
krisis
ekonomi,
jarak
antara
satu
negara
dengan
negara
lain
secara
plotis
sudah
semakin
kabur.
Dengan
kemajuan teknologi,
kini
belahan
dunia
seakan-akan
tidak
memiliki
batas
lagi,
dari
rumah
kita
bisa
mengamati
panggung/layar
dunia lewat kotak ajaib (TV). Kondisi
seperti
ini
membuat
kesenian
tradisional
seperti
|