Home Start Back Next End
  
13
wayang
kulit
mulai terdesak, yakni
kalah
bersaing
dengan
sumber
hiburan
dan
tontonan
modern
yang
lebih
menarik
karena
memanfaatkan
media
elektronik
sedemikian
canggih
dan
beragam
bentuknya,
seperti
film
dan
sinetron.
Maraknya
seni
media
elektronik,
mau tidak
mau, suka
atau
tidak
suka,
harus
dihadapi
tidak
saja
dengan
jalan
meningkatkan 
daya 
kreativitas 
dan 
melakukan 
inovasi 
lainnnya  
sesuai 
dengan
tuntutan zaman, tetapi juga dengan memanfaatkan jasa teknologi media rekam.
Sekaa
wayang
kulit
"Cenk
Blonk"
dari
desa
Belayu
adalah
salah satu sekaa (grup)
kesenian
tradisional
Bali
yang
telah berhasil
mengatasi keterhimpitan kesenian tradisi oleh
kemajuan
teknologi
dan
sekaligus
telah
dapat
rnenggairahkan
kembali
seni
pewayangan
di
Bali
yang
sempat lesu
dan
sepi
penonton.
Patut
diketahui
bahwa
wayang
kulit
"Cenk
Blonk"
merupakan wayang
ciptaan baru
yang
memadukan
unsur-unsur estetis
tiga
varian
seni
pewayangan
Bali,
yaitu
wayang
ramayana,
wayang
cupak,
dan
wayang
tantri.
Gaya
pakelirannya
menggabungkan
seni
tradisi
dengan
seni
kreasi
yang
dipengaruhi
oleh
teknologi modem. Musik pengiring
yang digunakan
tidak
lagi
menggunakan
gender
wayang,
akan
tetapi
menggunakan
gamelan semarandana
atau
angklung.
Sekaa
wayang
kulit
yang
semula
bernama
sekaa
wayang
kulit
"Gita
Loka",
dengan
dalang sekaligus
pimpinan sekaa
I
Wayan Nardayana dengan
berani
"memberontak”
kondisi
seperti
disebutkan
di
atas.
Pada
awalnya
pembrontakan ini
harus
dilakukannya dengan penuh
pengorbanan tetapi
dengan
upaya
yang
tidak
mengenal
menyerah
dan
dengan
daya
kreativitas
yang
tinggi,
wayang
kulit
"
Cenk
Blonk"
sudah
dapat
menikmati
hasil
perjuangannya.
Masuknya
karya-karya
seni
tradisional seperti
wayang
kulit
ke
dalam
teknologi
media  rekam  menandakan  mulainya  kesenian
tradisional
terlibat
dalam
"industri
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter