|
30
kuil
memiliki
masing-masing
acara
tahunannya
sendiri,
kebanyakan
berkaitan
dengan
pertanian,
khususnya
menanam
padi,
perlindungan pada
waktu
menanam
padi,
dan
memanen
padi.
Festival
mengikuti rangkaian
dasar
acara,
dan
komunitas lokal
menambahkan aktivitas khusus serta sebuah sentuhan
warna
lokal tergantung pada acara
yang
akan
berlangsung. Rangkaian
utama
dari
acara
tersebut
adalah
membacakan
doa
untuk kami, memberi persembahan kepada kami, dan berinteraksi dengan kami.
2.6 Konsep Mame-maki Dalam Setsubun
Menurut
Hicks
dalam
Danandjaja (1997
:
306),
Setsubun
adalah
pesta
rakyat
yang
pada dasarnya
merupakan
upacara
pengusiran
roh jahat,
yang kini diadakan
setiap
tanggal
tiga
atau
empat
Febuari.
Pada
hari
itu
diadakan pelemparan kacang
kedelai
(Mame-maki) untuk
mengusir roh jahat, sehingga upacara
ini digolongkan ke dalam
ritus
penangkal pengaruh jahat (exorscim) dengan
maksud
melenyapkan pengaruh
jahat
yang
dapat mendatangkan bencana.
Secara
harafiah
Setsubun
berarti
pembagian musim.
Istilah
Setsubun
pada
mulanya
dipergunakan
untuk
menunjuk
malam sebelum
hari pertama dari dua puluh empat
bagian penanggalan surya
di Jepang,
yang dikenal dengan
nama setsu.
Kemudian
istilah
ini
dipergunakan dalam arti
yang
lebih
spesifik
lagi,
yaitu
hari
terakhir dari
setsu,
yang
disebut daikan (dingin yang sangat), yang sama dengan malam dari risshun (hari
pertama
dari
musim
semi),
yakni
hari
tahun
baru
penanggalan surya
kuno,
dan
permulaan tradisional musim semi.
Pada
festival
ini,
kacang-kacangan
(biasanya
kacang
kedelai)
ditebarkan
di
dalam
maupun di
luar rumah atau bangunan, disertai dengan berteriak
oni
wa
soto, fuku wa
uchi! (enyahlah keburukan, datanglah keberuntungan!). Sudah menjadi adat kebiasaan,
|