Home Start Back Next End
  
15
7.   terdapat sebuah hubungan yang dekat antara agama dengan negara.
Dalam
ketujuh
ciri-ciri
tersebut
dapat dikatakan bahwa
terdapat
pengaruh yang kuat
dari Shinto, yang
merupakan terapan yang
mendasar dalam keagamaan Jepang (Reader,
1993 : 42).
Menurut Kuroda dalam
Tanabe (1999 : 452),  Shinto dipandang sebagai kepercayaan
asli
masyarakat
Jepang
setempat,
berlangsung sejak
masa
prasejarah
sampai
masa
sekarang. Menurut Reader (1993
:
64),
Shinto
seringkali
dideskripsikan sebagai agama
nasional Jepang. Dapat ditegaskan bahwa Shinto
merupakan kepercayaan bangsa Jepang
yang berkaitan dengan orang Jepang dan
lingkungan serta dunia
tempat
mereka
tinggal.
Kami, atau dewa Shinto,
muncul di dunia bangsa Jepang, dan
mitos serta
legenda Shinto
yang berkaitan dengan penciptaan dan permulaan
negara Jepang. Shinto juga
merupakan
sebuah kepercayaan yang berfokus pada kesatuan dan komunitas bangsa Jepang.
Nelson  dalam  Schnell  (2000 
:  165) 
mengatakan  bahwa  dalam  kemasyarakatan
Jepang,
penggunaan
teknologi
yang
maju
berdampingan dengan
adanya
kegiatan
keagamaan
yang
bersifat
ketakhyulan.
Shinto
tidak
terlihat
sebagai
agama,
melainkan
sebuah identitas kebudayaan orang Jepang.
Banyak
orang
telah
mendiskusikan
peranan
Shinto
dalam
sejarah
dan
kebudayaan
bangsa
Jepang,
tetapi
tergantung
pada
masing-masing
orang,
terdapat
pandangan
dan
interpretasi
yang  
berbeda-beda.
Ichiro
dalam
Tanabe
(1999
:
453),
mendefinisikan
Shinto
dan
Shintoness” sebagai
”hasrat
yang
mendasari
kebudayaan
Jepang.”
sebagai
berikut:
Shinto has been the crucial element bringing the great mix of religions and
rituals
absorbed by the Japanese people into coexistence. Moreover, it has forced them to
become Japanese in character.
Terjemahannya :
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter