|
16
Shinto
telah
menjadi
eleman
penting
yang
membawa
campuran
yang
luar
biasa
dari
agama
dan
ritual
yang
terserap oleh
bangsa
Jepang
ke
dalam
hidup
yang
berdampingan. Terlebih,
hal
tersebut
telah
menjadikan
bangsa
Jepang
dalam
karakter.
Masao
dalam
Tanabe (1999
:
453-454)
membagi pandangan tentang Shinto
menjadi
beberapa kelompok, yaitu;
1.
Shinto dengan orang Jepang,
merupakan hal
yang abadi atau ada
terus-menerus. Hal
ini
merupakan
hasrat
yang
mendasari
kebudayaan
Jepang,
sebuah
otonomi
yang
mendasar dalam perubahan dan pemahaman bermacam-macam elemen kultural
yang
diimpor
dari
luar
Jepang.
Dalam
kalimat
Norinaga,
beberapa
elemen
kultural
dari
berbagai periode
(bahkan Buddhisme dan
Konfusianisme) adalah Shinto
pada
periode tersebut.
2.
Walaupun
seseorang
dapat
saja
berkata
bahwa
Shinto
sebagai
sebuah
agama
yang
bersamaan dengan Buddha dan Taoisme, Shintoness adalah sesuatu
yang
lebih dari
hal
itu.
Hal
tersebut
merupakan hasrat
kultural
atau
energi
bangsa
Jepang,
yang
diwujudkan dalam
adat
kebiasaan
yang
lebih
penting
daripada
suatu
agama.
Di
sinilah, Shinto duniawi ditekankan.
3. Berdasarkan
pada
pola
pikir
berbagai
macam
kealamiahan
agama
Jepang,
seseorang mungkin
beragama
Buddha
ataupun
Shinto
pada
saat
yang
bersamaan,
dianggap sebagai karakteristik kebudayaan Jepang yang tidak dapat diubah.
Menurut Nelson dalam Schnell (2000
:
165), Shinto ada terus-menerus karena, Shinto
merupakan
hal
yang
pokok
dalam
mendefinisikan sebuah
pengertian
akan
identitas
kultural
dan
Shinto
tidak
terkekang
oleh
ajaran
agama
yang
terpusat,
pemimpin
yang
kharismatik dan kitab suci.
|