Home Start Back Next End
  
19
Yang dimaksud dengan
fenomena Shinto
misalnya;
melaksanakan perayaan
ibadah
di
kuil
Shinto,
memanjatkan doa
di
depan
para
dewa
yang
ada
di
kuil,
cerita
mengenai para dewa
yang ditulis dalam catatan kuno
Shinto, atau penjelasan para
sejarahwan Shinto,
dapat
dikatakan
penjelasan
tersebut
merupakan sejarah
Shinto
yang dimaterikan.
Menurut
Kuroda
dalam
Swanson
(1993
:
7),
menjelaskan
bahwa
Shinto
telah
lama
dianggap
sebagai sebuah elemen
yang penting
sekali
dalam
kepercayaan bangsa Jepang
yang 
membawa
hal 
tersebut
menjadi
suatu
keistimewaan
dan 
individualitas.
Orang
awam biasanya
memandang Shinto antara
lain; Shinto
menanggung kepercayaan primitif,
termasuk
pemujaan terhadap
alam
dan
hal-hal
yang
tabu
terhadap
kegare
(kekotoran),
tetapi
tidak
memiliki sistem
doktrin
yang
jelas;
Shinto
ada
dalam
bemacam-macam
bentuk,
yakni;
sebagai
kepercayaan rakyat
tetapi
pada
saat
yang
sama
memiliki
bentuk
yang tetap suatu kepercayaan
yang
terorganisir, contohnya; ritual dan
organisasi. Shinto
juga
memegang
peranan
penting
dalam
mitologi
Jepang
kuno
dan
menetapkan sebuah
dasar pemujaan terhadap roh leluhur dan kaisar.
Sejarahwan Sokichi dalam Swanson
(1993
:
10)
telah
mempelajari keberadaan kata
Shinto dalam kesusastraan awal Jepang dan membagi artinya menjadi enam katagori :
1.)
kepercayaan keagamaan yang ditemukan pada adat kebiasaan asli bangsa Jepang,
termasuk kepercayaan takhyul.
2.)
kewenangan,
kekuasaan,
aktivitas,
atau
perbuatan
kami,
status
kami,
menjadi
kami, atau kami itu sendiri.
3.)
konsep dan ajaran mengenai kami.
4.)
ajaran yang dipropagandakan oleh kuli-kuil tertentu.
5.)
”jalan ketuhanan” sebagai norma moral.
6.)
sekte
Shinto
yang
menjunjung tinggi
satu
aliran
seperti
yang
ditemukan dalam
agama baru.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter