|
20
Sokichi
menegaskan bahwa
dalam
Nihon
Shoki,
Shinto
berarti
kepercayaan religius
yang
ditemukan
dalam
adat-istiadat asli
Jepang.
Ada
tiga
aspek
utama
dalam
ajaran
Shinto,
yaitu;
(1)
pertalian
terhadap
alam,
(2)
keharmonisan dengan
kami,
(3)
ritual
penyucian.
Shinto
memiliki beberapa
aspek
yang
sampai
sekarang masih
populer,
seperti;
keberadaan kamidana
(altar
Shinto)
di
rumah
orang
Jepang,
peranan
Tuhan
dalam
pemberian
berkah
pada
kehidupan, dan
kepopuleran
festival
(matsuri).
Shinto
sangat
berkaitan
erat
dengan
kesuburan,
produksi,
dan
pemeliharaan terhadap
komunitas
masyarakat.
Sebagai
aspek
Shinto
yang
sampai
sekarang
masih
berkelanjutan, festival
sangat
terkenal
di
dalam
masyarakat Jepang
saat
ini.
Upacara
tanam
padi
dan
upacara
sejenis
agricultural
masih
diadakan
di
kuil
Shinto
yang
ada
di
seluruh
pelosok
daerah
Jepang (Reader, 1993 :64-65).
2.4.2 Pengertian Kami
Holtom
dalam
Reader
(1993
:
77),
menjelaskan bahwa
arti
kami
yang
luas
muncul
pada
kesusastraan Jepang
yang
ditulis
oleh
sarjana
besar
pada
abad
ke-8,
Mootori
Norinaga, sebagai berikut:
I
do
not
yet
understand
the
meaning
of
the
term,
kami.
Speaking in
general,
however, it may be said that kami signifies, in the first place, the deities of heaven
and earth that appear in the ancient records and also the spirits of shrines
where
they are worshipped. It is hardly necessary to say that it includes human beings. It
also includes such
objects as
birds,
trees, plants, seas,
mountains and
so
forth. In
ancient
usage,
anything
whatsoever which
was
outside
the
ordinary,
which
possessed superior power or which was awe-inspiring was called kami.
Terjemahannya :
Saya
tidak
begitu
mengerti tentang
arti
dari
bentuk
kami.
Jika
berbicara secara
umum,
bagaimanapun bisa
dikatakan
bahwa
kami
menandakan,
pada
urutan
pertama, penguasa surga
dan
bumi
yang
muncul di
catatan kuno
dan
juga
|