Home Start Back Next End
  
21
merupakan jiwa daripada kuil,
tempat di
mana kami dipuja. Sulit dikatakan bahwa
hal
tersebut
termasuk
juga
manusia. Hal
tersebut juga
termasuk
objek
seperti
burung,
pohon,
tumbuhan,
laut,
gunung,
dan
sebagainya. Di
dalam
catatan
kuno,
segala
sesuatu
yang
di
luar
hal
yang
biasa,
yang
mana
memiliki kekuatan atau
sangat menginspirasi disebut sebagai kami.
Kami
adalah
sebuah
kata  dengan
berbagai
macam
arti 
yang  mungkin
tidak  ada
definisi
yang
tepat dalam pengartiannya.
Terjemahan secara
literal berdasarkan karakter
hurufnya adalah ” yang di atas
”, dan biasanya digunakan untuk
menyatakan secara tidak
langsung
suatu
bentuk
kekuasaan.
Orang
Jepang
terdahulu
tidak
sembarangan dalam
mengaplikasikannya terhadap
beberapa
objek,
yang
bernyawa
maupun
yang
tidak
bernyawa
yang
dianggap
memiliki
kekuasaan,
mistis,
kekuatan,
ataupun
sesuatu
yang
tidak dapat dipahami.
Menurut
Ono
(1998
:
7),
di
antara
objek
dan
fenomena yang
telah
ada
pada
zaman
terdahulu
yang
dikatakan
sebagai
kami
adalah
kualitas
pertumbuhan, kesuburan,
dan
produktivitas ;
fenomena
alam,
seperti angin, dan
guntur ;
objek alam,
seperti
matahari,
gunung, sungai, pohon dan batu karang ; beberapa binatang ; dan roh-roh leluhur.
2.4.3. Konsep Tsumi (Kekotoran) dan Konsep Oni Dalam Shinto
Ritual
utama
dalam
Shinto
adalah
upacara
penyucian
atau 
biasa  disebut
dengan
oharai (Picken, 1994
:
171). Selain
itu, kekotoran tersebut dapat timbul
melalui berbagai
cara.
Dalam
sub 
bab
ini  sebelum
menjelaskan
tentang
oharai,
akan
saya
paparkan
tentang konsep tsumi dan konsep oni dalam Shinto, yang memiliki kaitan dengan oharai.
2.4.3.1 Konsep Tsumi Dalam Shinto
Menurut
Picken
(1994  :  171-172),
Tsumi  memiliki
makna
yang  luas  termasuk
“polusi“,
“penyakit“,
dan
”bencana.”
Aksi
atau
tindakan
tertentu,
situasi,
atau
suatu
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter