Home Start Back Next End
  
otonom, 
serta 
jumlahnya 
asosiasi-asosiasi 
yang 
terbentuk 
atas 
dasar 
inti 
tersebut
tergantung pada disposisi individu beserta pengalaman-pengalamannya.
Banyak sekali kompleks ini mengagangu keseimbangan jiwa, namun kompleks tidak
harus menjadi kekurangan atau kelemahan daripada individu tetapi hanya merupakan
sesuatu
dalam
kepribadian
yang
tidak
dapat
dipersatukan, tidak dapat diasimilasikan,
menjadi
pokok
konflik
yang
juga
tidak
selalu
menjadi
rintangan,
sedangkan
menjadi
suatu
rangsangan
untuk
usaha
yang
lebih
giat untuk kemungkinan menjadi sukses.
Sebagai contoh dari kompleks yaitu banyak terjadi pada pengalaman
traumatis,
misalnya
ketidakmungkinan yang semu untuk menerima keadaan diri sendiri dalam keseluruannya,
yang
sebenarnya
adalah
ketidakmungkinan
yang
semu untuk
menerima
keadaan
diri
sendiri dalam keseluruhannya.
(2). Mimpi, Fantasi ,Khayalan
Mimpi
sering
timbul
dari
kompleks
dan
mempunyai
hukum sendiri
serta
bahasa
sendiri ; dalam mimpi soal-soal sebab akibat, ruang dan waktu tidak berlaku ; bahasanya
bersifat lambang dan karenanya untuk memahaminya perlu ditafsirkan. Bagi Freud dan
Alder
mimpi
itu
dianggap
sebagai
hasil
yang patologis,
yaitu
penjelmaan-penjelmaan
angan-angan atau keinginan-keinginan yang tidak dapat direalisasikan, maka bagi Carl
Gustav
Jung
dalam
teorinya,
mimpi
mempunyai
fungsi
konstruktif yaitu
mengkompensasikan keberat-sebelahan dari konflik. Mimpi tidak hanya manifestasi hal
patologis, tetapi sering merupakan
manifestasi daripada ketidaksadarn kolektif, dan juga
mempunyai arti profetis.
Fantasi (phantasie) dan khayalan (vision) sebagai bentuk manifestasi ketidaksadaran.
Kedua
hal
ini
bersangkutan
dengan
mimpi, dan
timbul
pada
waktu
taraf
kesadaran
merendah ; 
variasinya  tidak 
terhingga  dari 
mimpi  siang 
hari  serta 
impian  tentang
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter