|
sekaligus
menunjukkan
sosoknya
sebagai
karya
seni
yang
berunsur
estetik
dominan
(Burhan, 2000 : 3).
Fiksi pertama-tama menyaran pada prosa naratif, yang dalam hal ini adalah novel dan
cerpen,
bahkan
kemudian
fiksi
sering
dianggap
bersinonim
dengan
novel
(
Abrams,
1981
:
61).
Novel
sebagai
karya
fiksi
menawarkan
sebuah
dunia,
dunia
yang
berisi
model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif,
yang
dibangun
melalui
berbagai
unsure intrisiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, penokohan, latar, sudut pandang, dan
lain-lain yang kesemuanya, tentu saja, juga bersifat imajinatif (Burhan, 2000 : 4).
Ada perbedaan antara kebenaran dalam dunia
fiksi adalah kebenaran di dunia
nyata.
Kebenaran dalam dunia
fiksi adalah kebenaran
yang telah diyakini keabsahannya sesuai
pandangannya terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam dunia fiksi tdak
harus
sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari
segi hokum, moral, agama, logika dan sebagainya.
Akan tetapi, hal itu tidak berarti pembaca tidak perlu memiliki sikap kritis, karena hal
itu
amat
dibutuhkan
dalam
rangka
memahami
secara
lebih
baik
suatu
karya.
Di
pihak
lain,
pengarang
pun
harus
mengasumsikan
bahwa
pembacanya
kritis.
Kesadaran
akan
adanya sikap kritis pembaca
itu akan
memaksa pengarang
untuk
lebih teliti dan berhati-
hati
mengembangkan ceritanya
sehingga
meyakinkan pembaca terhadap kebenaran,
yang dalam kaitan ini pembaca yang baik juga ikut dalam perkembangan kesusastraan
(Sudjiman : 1991 : 5-6).
|