|
2.3 Teori Penokohan
Dalam
teori
pengkajian
fiksi,
istilah
tokoh
menunjuk
pada
orangnya
atau
pelaku
ceritanya. Penokohan
juga
mencakup masalah
siapa
tokoh
utama
cerita,
berapa
jumlah
tokoh
cerita,
serta
bagaimana
penempatan
dan
pelukisannya dalam
sebuah
cerita.
Sedangkan
watak,
perwatakan, dan
karakter
menunjuk
pada
sifat
dan
sikap
para
tokoh
seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, serta lebih menunjuk pada kualitas pribadi
seorang
tokoh
(Nurgiyantoro,
2005:
165).
Sedangkan menurut
Jones
dalam
Nurgiyantoro
(2005:
165),
penokohan adalah
pelukisan
gambaran
yang
jelas
tentang
seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Tokoh cerita
(character)
menurut
Abrams dalam
Nurgiyantoro
(2005: 165-166)
adalah
orang-orang yang
ditampilkan
dalam
suatu
karya
naratif
atau
drama
yang
oleh
pembaca
ditafsirkan
memiliki
kualitas
moral
dan
kecenderungan
tertentu
seperti
yang
diekspresikan dalam
ucapan
dan
apa
yang
dilakukan
dalam
tindakan.
Untuk
kasus
kepribadian seorang tokoh, pemaknaan
itu dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan
tingkah laku lain (nonverbal).
Menurut Nurgiyantoro
(2005:
201),
metode
verbal
(melalui
dialog
atau
percakapan)
adalah
percakapan yang
dilakukan oleh
tokoh
cerita
dimaksudkan
untuk
menggambarkan sifat
tokoh
yang
bersangkutan. Tidak
semua
percakapan
menunjukkan
sikap
tokoh.
Namun
percakapan yang
efektif
dan
baik
adalah
yang
menunjukkan
perkembangan plot
dan
mencerminkan sifat
atau
watak
dari
tokoh
pelakunya.
Dan
Menurut
Mido
(1994:28),
metode
non
verbal
(melalui
deskripsi
perbuatan) adalah
menggambarkan watak
atau
karakter
tokoh
cerita
dengan
cara
mendeskripsi
tindak-
tanduk atau perbuatan yang dilakukan oleh seorang tokoh cerita.
|