|
31
inilah
yang
bisa
menjelaskan
mengapa
kualitas
diinterpretasikan
secara
berbeda
oleh
masing-masing individu dalam
konteks yang
berlainan.
2.2.2.1.
TranscendentalApproaclt
Dalam
ancangan
ini,
kualitas
dipandang sebagai innate
excellence,
yaitu
sesuatu
yang
bisa
dirasakan
atau
diketahui,
namun
sukar
didefinisikan,
dirumuskan
atau
dioperasionalisasiakan. Perspektif
ini
menegaskan
bahwa
orang
hanya
bisa
belajar
memahami
kualitas
melalni
pengalaman
yang
didapatkan
dari
eksposur
berulang
kali
(repeated exposure).
Sudut
pandang ini
biasanya diterapkan dalam dunia seni, misalnya
seni
musik, seni
drama, seni
tari dan
seni
rupa.
Orang awam
kadangkala sulit
memahami
kualitas sebuah
lukisan, puisi,
lagu atau
film
yang dipuji
oleh
para
kritikus dan
pengamat
seni.
Demikian
pula
halnya,
tidak
sedikit
pemirsa
acara
"Indonesian
Jdof'
atau
"American
Idof'
yang
kebingungan memahami
criteria
penilaian
para
juri
terhadap
penampilan
setiap
kontestan. Dalam
konteks
organisasi pemasaran, perspektif ini
sulit
digunakan
sebagai
dasar
manajemen
kualitas
nntuk
fungsi
perencanaan,
produksi/operasi,
dan pelayanan.
Kendati
demikian,
organisasi
pemasaran
bisa
memanfaatkan sejumlah
kriteria transcendental
dalam komunikasi
pemasarannya,
misalnya
pesan-pesan
ikla seperti
"tempat
berbelanja
yang
menyenangkan"
(pusat
perbelanjaan),
"elegan" (mobil),
"kecantikan
alami"
(kosmetik),
"kepribadian
yang
menawan"
(kursus
kepribadian),
"kelembutan
dan
kehalusan
kulit"
(sabnn
mandi
dan
body lotion), dan
seterusnya.
|