Home Start Back Next End
  
28
“Teman-teman,  lihat!  Sang  Putri 
hendak  berbelanja
sepertinya.emuanya memberi hormat!” salah satu angsa yang memberi
komando tadi, memperagakan cara hormat yang dimaksud. Berbalik arah
hingga membelakangi Si Itik, kemudian dengan sekuat tenaga kaki dikayuh ke
belakang. Serentak, angsa-angsa yang
lain melakukan hal yang sama. Dan
dalam   sekejap,   Si   Itik   telah   basah   kuyup   oleh   cipratan   air   danau.
Keranjangnya terjatuh.
Kawanan angsa itu tertawa girang.
“Kalian
sungguh
jahat!” berlinangan air mata, Si Itik meraih
keranjangnya
dan
berlari
menjauh.
Namun, Si
Itik
terpeleset
dan
terjatuh
dengan bunyi gedebuk yang keras. Dari kejauhan, kawanan angsa semakin
gembira. Mereka mengepak-ngepakkan sayapnya.
Si Itik berusaha untuk bangkit. Terpincang-pincang, dia mencari
keranjangnya.   Si   Itik   masih   menangis.   Ini   bukan   kali   pertama   dia
diperlakukan semena-mena oleh kawanan angsa tadi. Tapi, selama dua tahun
terakhir, semenjak dia terlihat berbeda dari angsa-angsa
itu, hampir setiap
hari
mereka mengganggunya.
“Sampai kapankah penderitaanku ini akan berakhir?” Si Itik sejenak
berhenti dan berdiri menatap permukaan air danau. Kilau matahari
memantulkan dirinya di sana. Bahkan, dirinya sendiri pun takut saat melihat
sosoknya yang dipantulkan air danau.
Segerombolan burung melintas di atas Si Itik.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter