|
1
Inggris-pun pernah mencoba masuk ke kepulauan ini, namun tidak berlangsung
lama.
Demikian pula dengan Jepang, yang pernah mencoba menguasai kawasan
Asia, termasuk kepulauan Maluku ini.
Lalu pada saat terjadi Perang Dunia II, Maluku yang menempati posisi strategis
dijadikan pangkalan perang beberapa bangsa. Yang hingga saat ini, masih berdiri
tugu/ makam tentara-tentara tersebut di Ambon.
Pada zaman kolonial tersebut, banyak orang Maluku
yang hidup di dalam
kemiskinan,
yang dengan dijanjikan kehidupan yang lebih baik,
beberapa dari
mereka tergiur untuk membela Belanda, dengan bergabung dalam tentara KNIL.
Bahkan, hingga disebut sebagai anjing-anjing Belanda oleh kaum nasionalis.
Ketika Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya, para
tentara KNIL
seakan ketakutan. Dengan menuruti janji pemerintah Belanda, akhirnya mereka
hijrah ke sana, dan dijanjikan untuk dipulangkan setelah enam bulan. Namun pada
kenyataannya, sesampai di sana status ketentaraan mereka dilepas, dan mereka
dianggurkan begitu saja.
Kehidupan mereka justru semakin sulit, karena harus
bertahan hidup di tanah yang belum mereka kenal. Dan anggaran yang seharusnya
dibelanjakan untuk memulangkan
mereka, justru dibelanjakan
kebutuhan perang
oleh Kerajaan Belanda. Hingga kini, keturunan Maluku ex-KNIL di Belanda sudah
mencapai tiga atau empat generasi.
Atas latar belakang-latar belakang tersebut, Maluku memposisikan dirinya sebagai
kepulauan yang kaya budaya, dan sarat akan nilai sosial. Namun, pada tahun 1999
2001, atas nama politik busuk, masyarakat Maluku diguncang isu SARA, hingga
diprovokasi. Hal tersebut mengakibatkan kerusuhan yang meninggalkan bekas
luka mendalam bagi kehidupan Maluku pada umumnya.
|