Home Start Back Next End
  
13
relatif muda, Pati Unus dikenal sangat dinamis. Ia bukan saja berhasil mengembangkan
armada perang, tetapi ia mampu meneruskan perjuangan ayahandanya di bidang ekonomi,
menjadikan Jepara sebagai bandar perdagangan. Jepara menjadi salah satu pusat
perdagangan di pesisir utara pulau Jawa.
Belum genap lima tahun memimpin Jepara, Pati Unus telah menggabungkan armada
perang dengan armada perang dari Palembang, untuk menyerang kolonialisme Portugis yang
bercokol di Malaka karena dipandang mengancam eksistensi Jepara. Armada Pati Unus yang
terdiri dari 100 buah kapal -yang paling kecil beratnya 200 ton- ini sampai di Malaka tanggal
1 Januari 1513. Sayang, penyerangan ini gagal. Dari 100 buah perahu yang dikirim ke
Malaka, hanya 8 buah yang dapat kembali ke Jepara. Kegagalan ini menurut penulis
Portugis, Joan de Baros dalam bukunya “Kronik Raja D. Manoel, Pati Unus” membuat Pati
Unus sangat berduka dan kecewa, sehingga ia memerintahkan kapal terbesar yang dapat
kembali ke Jepara, untuk diabadikan sebagai monumen perang di pantai Jepara .
Pati Unus kemudian digantikan oleh ipar Falatehan, yang namanya tidak tercatat dalam
sejarah. Ia berkuasa tahun 1521 hingga tahun 1536. Dalam pemerintahannya, Jepara ikut
membantu Falatehan dalam merebut Banten dan Sunda Kelapa, termasuk mengusir bangsa
Portugis dari Sunda Kelapa tahun 1527.
Kemudian oleh Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada menantunya yang bernama
Pangeran Hadiri pada tahun 1536. Suami Retno Kencono ini akhirnya dibunuh oleh Ario
Penangsang, sebagai akibat dari perebutan kekuasaan di kerajaan Demak. Kematian
Pangeran Hadiri membuat Retno
Kencana sangat berduka sehingga ia bertapa di bukit
Danaraja. Ia berjanji, tidak akan berhenti bertapa sebelum pembunuh suaminya tewas.
Harapan Retno Kencana ini akhirnya terwujud setelah Ario Penangsang dibunuh oleh
Sutowijoyo dengan tombak Kyai Plared.
Retno Kencana kemudian turun dari pertapaannya dan dilantik sebagai penguasa Jepara
dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini berlangsung dengan Surya Sengkolo Trus
Karya Tataning Bumi yang diduga dilakukan tanggal 12 Rabiul Awal atau tanggal 10 April
1549. Berkat kepemimpinan Ratu Kalinyamat, dalam waktu singkat Jepara telah
berkembang bukan saja sebagai Bandar terbesar di pesisir utara pulau Jawa, tetapi juga
memiliki armada perang yang sangat kuat. Oleh penulis Portugis, Diego De Conto, Ratu
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter