Home Start Back Next End
  
14
Kalinyamat digambarkan sebagai “Rainha de Jepara senhora pederose e rica,” yakni Ratu
Jepara, seorang wanita yang sangat berkuasa.
Ratu Kalinyamat yang berkuasa selama 30 tahun lebih, disamping pernah menyerang
Malaka yang waktu itu dikuasai oleh kolonialisme Portugis sebanyak dua kali, juga telah
terbukti berhasil membawa Jepara ke puncak kerjayaannya. Jepara berkembang menjadi
bandar perdagangan terbesar di pesisir pulau Jawa. Pada era ini, kerajinan ukir mulai
berkembang di Jepara. Salah satu bukti yang tak terelakkan adalah adanya ornamen di
masjid Mantingan, di mana Pangeran Hadiri dimakamkan. Masjid yang dibangun pada
pemerintahan Ratu Kalinyamat ini, panel-panel di dindingnya dihiasi dengan relief-relief
berbentuk garis kurawal. Sedangkan motif hiasan yang dipilih dan dan terukir di sana berupa
tumbuh-tumbuhan, bunga teratai dan hewan, gunung-gunungan, pertamanan, dan aroma
kelelawar.
Ratu Kalinyamat kemudian digantikan oleh anak angkatnya yang bernama Pangeran
Jepara yang berkuasa dari tahun 1549 sampai tahun 1599, saat mana ia harus mengakhiri
kekuasaannya karena diserbu oleh Panembahan Senopati dari Mataram.
Setelah era kerajaan Jepara runtuh, diperkirakan terjadi kekosongan penguasa, sehingga
sampai tahun 1616 tidak tercatat sejarah siapa yang memimpin Jepara. Baru pada tahun
tersebut, Jepara tercatat dipimpin oleh Kyai Demang Laksamana yang kemudian digantikan
berurut-urut oleh Kyai Wirasetia, Kyai Patra Manggala, Kyai Wiradika, Ngabehi
Wangsadipa, Kyai Reksa Manggala, Kyai Waradika, Ngabehi Wangsadipa (jabatan kedua),
Ngabehi Wiradika, Wira Atmaka, Kyai Ngabehi Wangsadipa, Tumenggung Martapura,
Temenggung Sujanapura, Adipati Citro Sumo I, Citro Sumo II, dan Adipati Citro Sumo ke
III yang sekaligus menutup sejarah era kerajaan Mataram di Jepara dan masuk pada era
kekuasaan Belanda .
Namun pada masa transisi ini,
Belanda masih tetap memakai Adipati Citro Sumo III
yang kemudian digantikan oleh Citro sumo IV, Citro Sumo V, dan Adipati Citro Sumo VI.
Setelah Adipati Citro Sumo VI, Jepara kemudian dipimpin oleh Temenggung Cendol.
Namun jabatan ini tidak lama, karena Setelah Adipati Citro Sumo VI kembali dari tuban
tahun 1838, ia mendapatkan kepercayaan untuk menjabat sebagai Bupati Jepara yang
kemudian di lanjutkan oleh Adipati Citro Sumo VII. Pada tanggal 22 Desember 1857, ia
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter