|
20
Bondan juga merasa prihatin karena makin banyak anak-anak tidak mengenal
makanan
Indonesia. Apalagi saat ini keberadaan kuliner Nusantara makin jarang
ditemui. Dia menyayangkan karena para orang tua tidak berusaha mengenalkan
kuliner Nusantara kepada anaknya sehingga anak-anak merasa asing dan lebih banyak
mengenal makanan cepat saji dari luar negeri.
Dia juga merasa prihatin kepada pemerintah, terutama pemerintah daerah, yang
tidak punya visi mengembangkan kuliner Nusantara. Menurutnya, pemerintah tidak
menghargai kuliner sebagai budaya. Padahal, kalau digali, dikembangkan, dikemas,
untuk turisme sangat banyak.
2.7.4 Memasarkan Indonesia Lewat Budaya
Menurut Bayu Krisnamurti (Wakil Menteri Perdagangan), anak-anak Indonesia
sudah seharusnya sejak dini mengenal secara mendalam makanan asli daerah untuk
menyampaikan pesan kekayaan budaya Indonesia. Bayu Krisnamurti menyayangkan
anak-anak Indonesia yang lebih mengenal makanan maupun camilan dari luar negeri
ketimbang dari dalam negeri. Bayu Krisnamurti juga mengatakan bahwa kita harus
melatih anak-anak Indonesia agar taste-nya taste Indonesia.
2.7.5 (Makin) Berjaya di Negeri Sendiri
Ahli Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Wahyu Supartono,
menyatakan bahwa perkembangan ranah kuliner Indonesia harus diimbangi dengan
edukasi, khususnya kepada anak-anak agar kelak
mereka bisa meneruskan tradisi
kuliner Indonesia. Anak-anak perlu diajak untuk lebih mengenal masakan lokal atau
rumahan. Selain lebih enak, terbukti juga lebih sehat daripada makanan Barat.
2.7.6 Psikologi Perkembangan Anak
Tidak bisa dipungkiri televisi saat ini jadi bagian hidup sehari-hari anak.
Menurut psikolog anak Vera Itabiliana, ada penelitian di Indonesia yang membuktikan
bahwa 54% anak lebih suka nonton TV daripada main sama ayahnya. Kegemaran anak
pada acara televisi ini dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan untuk memperkenalkan
produknya.
|