|
6
Kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor yang berlangsung
secara terus menerus dan terakumulasi akan menyebabkan apa yang disebut
dengan lelah kronis. Gejala-gejala yang tampak jelas akibat lelah kronis ini
dapat dicirikan seperti (Wignjosoebroto, 2003, p. 285):
Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang
toleran atau antisosial terhadap orang lain
Munculnya sikap apatis terhadap pekerjaan
Depresi yang berat , dan lain-lain
2.3.
Karolinska Sleepiness Scale (KSS)
Karolinska Sleepiness Scale
adalah skala yang dipergunakan untuk
melihat rate
dari subjek yang akan dinilai tingkat kelelahannya berdasarkan
skala 1 sampai dengan skala 9. Nilai 1 menunjukkan rasa yang sangat lelah
dan nilai 9 menunjukkan rasa yang sangat mengantuk, berusaha untuk tidak
mengantuk, berusaha untuk tetap berada dalam posisi bangun. Pasien atau
subjek akan diberikan penjelasan untuk setiap nilai 1 sampai 9 yang ada.
Dengan semakin besar nilainya, menunjukkan bahwa pasien atau subjek
berada dalam posisi mengantuk.
Tingkat kelelahan KSS dapat dijelaskan
sebagai berikut (Schleicher, Galley, Briest, & Galley, 2008, p. 3):
1.
Terlalu Waspada
2.
Sangat Waspada
3.
Waspada
4.
Cukup Waspada
5.
Tidak waspada dan tidak mengantuk
6.
Menunjukkan pertanda mengantuk
7.
Mengantuk, namun tidak menunjukkan usaha agar tetap waspada
8.
Mengantuk, namun berupaya untuk tetap waspada
9.
Sangat mengantuk, sangat berupaya untuk tetap waspada
Validasikan yang dimiliki oleh KSS mengindikasikan bahwa rasa
kantuk dapat diukur secara signifikan sama seperti pengukuran tingkat kantuk
menggunakan electroencephalogram
(EEG) dan electrooculogram
(EOG).
Dengan kata lain, semakin tinggi nilai KSS maka akan menurunkan performa
yang akan dilakukan, dan performa ini sendiri dapat diukur dengan task
vigilance dan reaction time (Morin & Espie, 2012, p. 398).
|