|
neraca. Hasil dari penelitian tersebut mengindikasikan bahwa perlakuan akuntansi untuk aktiva
tidak berwujud seringkali masih menimbulkan kesulitan dalam teori akuntansi, terutama dalam
hal pemberian definisi aktiva tidak berwujud dan adanya ketidakpastian mengenai pengukuran
nilai dan masa manfaat dari aktiva tersebut. Ciri yang melekat pada aktiva jenis tersebut justru
menyebabkan perdebatan panjang terhadap perlakuan akuntansinya.
Sementara itu pada bagian lain dari jurnal tersebut terdapat penelitian mengenai modal
intelektual yang dilakukan oleh Ambar Widyaningrum. Penelitian oleh Widyaningrum (2004)
bertujuan melihat kemungkinan mengkapitalisasi modal intelektual dalam neraca, karena sistem
akuntansi konvensional dianggap tidak mengizinkan kapitalisasi dan pelaporan atas modal
intelektual sehingga laporan keuangan tidak memadai lagi untuk menilai kinerja dan nilai
potensial perusahaan. Indikator pengukuran seperti ROI dan ROE jadi mengambang karena
denominatornya tidak mencakup nilai dari aktiva tidak berwujud. Kesimpulan yang diambil dari
penelitian ini adalah terdapat dua macam pengukuran yang telah diperkenalkan para ahli
akuntansi untuk menilai modal intelektual, yaitu dalam bentuk moneter dan non-moneter. Meski
secara moneter dimungkinkan, namun penilaian terhadap angka-angka yang tersaji masih sulit
dilakukan bahkan dikhawatirkan akan dapat membuka celah bagi manipulasi laba. Penilaian
secara non-moneter diperkirakan akan lebih dapat menggambarkan kinerja perusahaan atas
modal intelektual yang dimiliki. Penilaian non-moneter yang telah dikembangkan salah satunya
adalah balance scorecard. Penyajian laporan keuangan yang dilengkapi dengan suplemen berupa
balance scorecard dinilai akan memberikan gambaran yang lebih kongkrit tidak hanya mengenai
financial performance namun juga financial performance dari modal intelektual yang merupakan
aset utama perusahaan, terutama untuk perusahaan yang berbasis pada penggunaan modal
intelektual.
|